Curhat Jelang Tenggat……….

December 10th, 2007 by riawibisono

Waktu berlalu begitu cepat dan empat hari lagi aku akan ikut andil dalam membanjiri tata usaha jurusanku dengan tujuh rangkap skripsiku yang hingga sekarang tebalnya sudah mencapai 170 halaman. Memang masih revisi dikit-dikit sih, dan dag dig dugnya masih kenceng. Mulai minggu lalu aku sudah bernovena memohon kesuksesan buat skripsi ini. Sebenarnya aku bingung juga mau minta apa, mau minta nilai A kok ya ga tau diri(aku kan sering males-malesan dan setengah hati juga bikinnya), akhirnya aku minta biar bisa ngumpulin skripsi tanpa tragedi. Misalnya, printer ngadat, fotokopian lambat, dkk.

Soalnya pas kolokium dulu aku sport jantung abis gara-gara Mas Kopma yang lamban banget kerjanya, mana salah lagi, jilidnya kebalik. Alhasil pas sidang pengujinya nanya, “Kamu keturunan Arab ya?”. Aku jadi bingung, rasanya kok mukaku ndak ada Arab-Arabnya. Nama juga gak berbau-bau Arab. Ternyata si penguji nyindir, soalnya,”Baca proposalmu serasa baca Quran, dari kanan ke kiri…” Nah, tragedi ini jangan sampai deh terulang lagi, apalagi sampai mengurangi nilai, wih bisa aku gorok deh mas fotokopiannya.

Dag dig dug lain adalah karena jelang deadline ini rasanya banyak banget badai menghadang dalam hidupku. Ya memang sejak skripsi ini aku sering ketiban apes, sampai akhir pun ada aja yang bikin susah. Semoga deh ngumpulin skripsi ini bisa menolak bala, kayak ruwatan atau ci suak gitu. Dan seterusnya hidupku akan damai tentram dan bahagia, terutama bisa tidur normal lagi, pergi sama teman lagi, ngeblog teratur, yoga lagi, napsu makan kembali lagi, nggak dikit-dikit migrain dan mual lagi. Dalam masa-masa kritis skripsi ini memang stresku tingkat tinggi, ibaratnya listrik aku sudah SUTET (saluran udara tingkat EKSTRA tinggi). Pengaruh ke napsu makan (bukan maksud doa puasa atau diet, tapi liat makanan aja udah ga selera sampai harus nonton Pak Bondan di TV dulu biar agak ngiler) dan kesehatan (belakangan sering migrain, terus kalo buka file dalam folder SKRIPSI udah mual duluan). Ke mimpi juga, udah berapa kali aku mimpi buruk mulai dari sidang yang kacau, dimarahi pembimbing, sampai mimpi disuruh balik ke SMA dan ngulang di jurusan IPA dengan kimia yang bikin sinting itu. Memang ini sifat bawaan lahir, dari zaman baheula yang namanya Ria itu nggak bisa nyantai kalau urusan sekolah, misalnya pas Ebtanas, UAN, wow, tegangnya nggak ketulungan.

Suasana rumah juga belakangan rada ga mendukung, sistemnya no privilege walaupun lagi skripsi, tugas di rumah harus tetap beres semua. Sirik deh sama adikku yang kalau banyak tugas aja serumah ngalah, dan kalau pas ada aku, aku pasti bantuin dia (dan kabar buruknya adikku sedang mempertimbangkan untuk batal milih Farmasi/Teknik Kimia, mau nyeleweng ke Psikologi, which means aku masih punya peluang buat bantuin dia bikin tugas dan belajar, komunikasi kan ada mata kuliah psikologinya juga….kalau dia masuk Tekim/Farmasi kan aku nggak bisa bantu). Tapi Thanks God sampai hari ini sih aku nggak pernah jatuh sakit yang berat sampai harus total bed rest misalnya. Aku ngejaga banget, dosis vitamin dinaikkan dan tiap hari aku juga makan buah yang banyak. Pas agak ga enak dikit, aku cepat-cepat pakai minyak kayu putih. Kayak nenek-nenek juga biarin yang penting ga ambruk.

Yang menghibur adalah kata-kata pembimbingku, meskipun masih ditambah instruksi untuk revisi, tapi aku menangkap harapan di dalamnya. Pak N bilang kesimpulanku menarik. Dia juga sudah mulai memberi petuah jelang sidang. Katanya,”Ria nanti kamu jangan keder duluan pas liat pengujinya ya.” Aku menjawab dengan polos,”Wah Pak, ya liat-liat orangnya. Kalau si *sensor* atau *sensor* ya saya gak jamin bisa gak tegang.” Si bapak sih senyum-senyum aja, begitu juga pas aku tanya kira-kira nilaiku apa. Dia ga mau jawab dengan pasti, tapi pas aku tanya apa mungkin dapat C, katanya ga mungkin. Puji Tuhan deh, bisa desperado aku kalau kerja setahun dengan nangis darah dapatnya C (tau-tau dalam hati si bapak membatin,"Iya, ga dapat C, dapatnya D!" *pikiran buruk-hapus… hapus….*) . Satu lagi yang menghibur, meski agak nyindir kali ya, si bapak bilang,”Kalau si X itu anaknya rajin, kerjanya cepat, tapi pencariannya gak sejauh kamu.” Kenapa aku bilang nyindir, karena aku tuh kerjanya lambaaaannnnn banget kayak siput, maklum orang perfeksionis. Tapi kayaknya si bapak terharu melihat usahaku yang keliatan di skripsi. Seperti motto kecap,”Spirit memang ga bisa boong”. Hahaha…

Soal pembimbingku yang ini, aku punya cerita menarik. Aku ga nyangka bakal dibimbing Pak N. Diajar juga nggak pernah, pas kolokium juga bukan dia yang nguji. Pertama-tama aku minder bimbingan ke dia, soalnya Pak N itu pimpinan redaksi koran yang lumayan oke di Surabaya (yang pasti bukan koran kuning). Puinter, expert, dan ngomongnya bahasa dewa. Sering ga ngerti aku maksudnya apa. Akhirnya setelah belelekan baca aneka buku baru aku bisa nyambung ngomong ama dia. Tambah lama obrolan kita tambah ngaco sampai ke wayang-wayang segala, untung dari dulu aku suka cerita wayang jadi ngerti juga. Pak N ini modelnya sangar, sukanya pakai kaos Harley Davidson sampai kata Supry, temanku, “Pembimbingmu itu kurang ditato thok.” O iya, kenapa aku manggil dia Pak N, biar keren aja, kan kapan hari musim film Suster N. Tapi nama aslinya bukan Pak Ngesot lho ya! Pak N juga seru, aku disuruh baca buku Da Vinci Code, terus dia bilang,”Kan skripsimu ini kayak kerjaannya si Robert Langdon juga.” Hehehe… jadi berasa agak keren dikit, walaupun apalah artinya seorang mahasiswi yang gak lulus-lulus ini dibanding profesor simbologi agama alumni Harvard.

Sebagai hiburan pembimbing keduaku nun jauh di Jerman sono mengirimkan e-mail dengan attachment MP3 berjudul Konangan. Pas aku denger, beneran ketawa sampai mlungker. Ternyata itu lagunya Matta “Ketauan” versi Didi Kempot. Jadi ingat kebiasaan kita bimbingan from warung to warung sambil nyetel Jablai. Lumayan menghibur, meski pas baca attachment satunya lemes, soalnya aku kurang di triangulasi. Eniwei, overall she mentioned,”It’s a great work.” Hallelujah! (diucapkan dengan nada temanku Cak Hadrey). Kalau ingat jaman-jaman awal kolokium, dia suka ngomel karena bahasaku yang kayak bahasa koran. Dia bilang,”Aku tau kamu sering nulis di koran, tapi ini kan skripsi! Pakai bahasa ilmiah donk!”

Kalau sama pembimbing keduaku si Miss Y ini aku emang udah akrab sejak lama. Dia juga yang membuat aku tertarik sama semiotika, dan dia meyakinkan kalau aku ada bakat di semiotika. Dipikir-pikir memang aku suka ngamati simbol-simbol dari dulu, pas pelajaran seni rupa aku juga paling suka gambar ekspresi. Suka iklan juga, tertarik sama budaya, sejarah (almarhum engkong kan guru sejarah, masak gennya ga nurun sama sekali), politik dikit. Jadi skripsi ini emang gue banget, meski kerjanya bikin gila. Miss Y juga paling ngerti permasalahanku selama skripsi ini, tadinya aku ga mau cerita lengkap, sampai suatu hari di selasar C aku nangis-nangis cerita semuanya. Ternyata Miss Y pernah ngalamin divonis dokter sama seperti aku, bahkan dia beneran jalanin operasi yang horrible itu, jadi dia ngerti banget. “Dunia serasa runtuh kan Ria?” Wah, tepat banget tuh istilahnya. Miss Y juga yang jadi motivator selama aku skripsi, dia bilang ga segitu bodohnya kok lulus telat, dia sendiri gitu. Dan lihatlah Miss Y beberapa tahun kemudian, master di bidang komunikasi, dosen yang disegani, dan sempat jadi kajur paling muda se-UK Petra. Karena dukungan yang besar dari Miss Y dan Pak N itulah aku jadi semangat lagi ngerjain skripsi dan aku janji sama mereka untuk give all the best. Kalaupun ga dapet A aku tetap puas, soalnya aku kerja dengan sungguh-sungguh dan mati-matian.

Oh iya, kemarin sempat telepon dan ngobrol sama Mama. Pas skripsi ini bawaanku jadi manja, biasanya juga seminggu belom tentu sekali aku telepon sampai dibilang anak durhaka. Pengennya sih Mama diimpor aja ke Surabaya buat bantuin aku kayak pas bikin laporan magang dulu. Tapi kan kasihan Papa sama adikku, lagian sepuluh tahun tinggal jauh dari ortu nggak pernah deh aku sampai minta Mama datang. Mama juga bilang dia udah doain aku, kan katanya doa orang benar besar kuasanya, aku percaya Mamaku orang benar dan doanya pasti manjur dibandingkan kalau aku doa sendiri (kan orang sesat hehehe). Selain sama Mama aku juga titip doa kemana-mana, kayaknya orang sekampung deh yang doain. O iya, Mama juga mau bantuin cari kerja loh, senangnya…

Yang unik, jelang deadline ini ada aja kabar penting dari teman-temanku. Ada yang spesial minta ketemuan di mall buat cerita kabar sedihnya (so sad to hear that, really…). Yang satu lagi tiba-tiba telpon, ngundang aku dateng ke acara pertunangannya, besoknya. Shock abis jadinya, kok tau-tau udah tunangan. Ada juga teman baik dari SMP ngajak jalan, sayang aku nggak bisa sampai ni skripsi dikumpulin.

Skripsi biasanya juga bikin orang mencari Tuhan. Contoh temanku si Supry, yang bernazar bakal ke gereja lagi kalau lulus skripsinya. Kalau aku sampai sekarang belum berani nazar yang menyangkut kerohanian gitu. Cuma nazar ke beberapa teman untuk traktir mereka. Semakin tinggi nilainya, semakin tinggi level traktirnya. Kalau dapat C, ya makan nasi ama kuah aja di warung X, merasakan getirnya hidup bersama. Balik lagi soal kerohanian, entah kenapa sejak skripsi ini khotbah di gereja terasa menyindir-nyindir. Romo-romo itu sejak kapan sih suka ngomong soal simbol, lambang, ga sekalian representasi? Terus di doa umat minggu ini, ada kata-kata,”semoga penghisapan bangsa yang satu terhadap yang lain berakhir…” Gila, aku langsung teringat subbab kemandirian dan kata Pak N,”munculin ideologinya ya, ini kan neoliberalisme.”

Skripsi juga bikin aku sebel sama perpus UK Petra. Emang sih, buku nasionalisme itu biasanya tua-tua, Ben Anderson tahun 70-an, Renan malah 1832, jadi jaman sekarang udah klasik banget tuh buku-buku. Aku juga sadar perpus mungkin baru menyediakan buku-buku sospol sejak FE dibuka. Tapi tetap saja koleksinya harus diperlengkap. Untung aku dibantu sama koleksi THO alias buku titipan Prof Thomas di perpus (Prof Thomas ini juga baik banget sama aku, minjemin buku, kalau ketemu juga ditanyain kabar skripsinya). Dan suatu hari setelah aku fotokopi Imagined Communities terjemahan Indonesia dari Pak Thomas, dan udah kelar men-scanning isinya, eh, di perpus versi Inggris edisi terbarunya barusan nongol. Sebel kan? (Mm… sebenarnya lebih sebel pas nemu terjemahan Indonesia cetakan terbarunya di Uranus…). Nulis skripsi ini juga ribet, kenapa masih dibuat sulit. Sudah kadung beli buku tata tulis TA, ngikutin petunjuknya, eh, pas pelatihan tata tulis yang telat banget itu dikasih tau kalau Fikom ikut petunjuk yang kedua, sistem APA kalo ga salah. Bete ga sih, mbok ya dari awal ditulis gede-gede di bukunya, jurusan apa aja yang harus pake sistem ini dan jurusan apa yang pake sistem itu.

Ya sudahlah segini aja curhat tentang skripsinya. Mohon bantuan doanya ya teman-teman….. Oh God, I’m in rush……..

Ms.Yola : My Great Lecturer

March 7th, 2007 by riawibisono

She entered the class confidently in fashionable clothes and sleek hair. For me, a first-semester-student, she looked like a stewardess rather than lecturer. She was so stylish, so cool, beautiful and slim. I thought that her class would be serious but fun.

She spoke in very good English. Of course she did, she was graduated from English Department. I even thought that she couldn’t speak Indonesian. She could, she is an Indonesian. But because she spoke English more than Indonesian, at the beginning her Indonesian sounded weird for us. So, we greeted or asked her in English outside the class.

At that time, I never imagined that someday, this lecturer of my English 1 class would be more than a lecturer for me. Not even when she gave us a hand-made card to motivate us in our final exam. Not even when my dean said that she would be our full-time lecturer. Not even when we met again in my Semiotics class.

But then, we got closer by chance. First, when she became our facilitating lecturer in PR Week 2005. We celebrated her birthday eating sate at the Satay House Jakarta. We slept in the same room, ate the same food, felt the same way when all of the teams failed in the first round. We eavesdropped her phoning her German fiancé. There was a moment when she got mad at everybody because we didn’t keep our promise to her. I thanked God that she is a very fair person; she doesn’t have a grudge against us. After that night, we’ve made everything clear and we never talk about that until now.

Our first dean, Professor Thomas, picked her to be the person in charge for the student activities. She was very good doing this task. She didn’t complain joining our student camp. It made me saw her as a tough woman, hiked together with us, helped us in the hiking games. My first impression about her changed. I didn’t she her as a feminine woman again, she is boyish! There was a problem in that camp; me and her were responsible for that, both of us felt guilty, then we prayed together and magically, the problem was solved. It brought us closer.

I took her classes again, in Cross-Cultural Communication. I can see that she always tries to increase her teaching quality day by day. Her classes become more and more interesting, though we must have more and more assignments as the consequence. She never teaches exactly the same material, because there must be something new every semester. It happens also with her assignments.

I still remembered how she asked us to analyze a printed advertisement and a movie in Semiotics. She made me watched Mulan for about 4 times because I had to write all the dialogues in order to analyze it. In Cross Cultural Communication, I watched Wedding Banquet which made me and my friends laughed out loud, almost forgot that we had to analyze that movie. But then came new assignment that made us watched Crash which was a quite complicated movie. And in my final exam I got a new experience interacting with people at Cindilan Market. It became a tragedy because my computer was error one day before the deadline of final paper submission. Luckily she understood my case and let me submit it later.

          Not only good in teaching, she is a good leader. Just one year after become our full-time lecturer, she was inaugurated as head of the Communication Study Department. Unfortunately she was sick just few days before the inauguration ceremony. We went together to the hospital; brought our special ‘gift’ because it was her birthday (the hospital was so silence until we came). Until this day I still thought if only she was healthy, she would be the most fashionable woman in her inauguration.

In case she is very care about the student organization and its activities, we often talk about the topics until these days. I thought that after I become nobody (not a member of student organization), we won’t talk about it again. I was wrong. You still can find me and some of my friends in her office, talking about the student organization, the student committees, or the programs. Sometimes the chats can be so personal.

          Anyway, if I don’t consider her just as my lecturer anymore, then who is she for me now? For me, she is my best friend. I shared many things with her, even when I was down because of my undergraduate thesis. She is my motivator, because she can motivate me to keep focus on it and not care about other’s opinions. That was mean so much for me. She is my hero, she helped me a lot in my study and I will never forget it. She is my teacher, because she teaches me not only semiotics or cross cultural communication theories, but also life lessons.

          I feel so sad since she will leave our department next month. I hope that she’ll stay, helping me in this undergraduate thesis, being with me in my graduation day. But it’s her decision because she will get married and maybe live in

Germany

. I hope that she won’t forget us; we love her so much. It will be so much tears falling in the C building in her farewell. That’s why I write this blog, to keep our memory together and tell her how lucky I am to have her in my life. Love you Ms. Yola…. we’re gonna miss you so…. (and now I can hardly keep my tears, they are falling down from my eyes….)

NB : I remember in my first blog on blogspirit, I wrote her as one on my fave lecturer…. eventhought that time we haven’t been so close…

Love You, Friend!

February 14th, 2007 by riawibisono

Pesan ini kubuat untuk semua temanku di mana pun kalian berada : teman SMA, teman kampus, teman lama, teman baru, teman dekat, yang jelas bukan teman tapi mesra karena nggak ada, hehehe….

Pesan ini berdasarkan realita hubunganku sama teman-teman, jadi kalau ada yang merasa tersindir, sori ya! Tapi intinya aku pengen ngomong kalau kalian adalah orang-orang yang sangat berarti buat aku dan aku sangat bersyukur Tuhan menghadirkan kalian dalam hidupku.

Dear my friends….

Biarpun selama bertahun-tahun kamu selalu lupa hari ulang tahunku, aku tetap sayang kamu

Biarpun kita banyakan bertengkar daripada rukun, aku tetap sayang kamu

Biarpun kamu suka maksa dan sering bikin aku nangis, aku tetap sayang kamu

Biarpun kamu sering nggak dengerin omonganku, aku tetap sayang kamu

Biarpun kita sering ledek-ledekan, sindir-sindiran, aku tetap sayang kamu

Biarpun kita pernah saling membohongi, aku tetap sayang kamu

Biarpun kita udah jarang ketemu, aku tetap sayang kamu

Biarpun aku sering BT karena kamu, aku tetap sayang kamu

Biarpun dulu aku sebel banget sama kamu, aku sekarang sayang kamu

Biarpun kita pernah saling menyakiti, aku tetap sayang kamu

Biarpun kita sering beda pendapat, aku tetap sayang kamu

Biarpun aku sering marah sama kamu, aku tetap sayang kamu

Biarpun kita sering saling mempermalukan satu sama lain, aku tetap sayang kamu

Biarpun aku pernah ragu sama kamu, aku tetap sayang kamu

Biarpun perbedaan karakter kita lumayan ekstrim, aku tetap sayang kamu

Biarpun orang mencoba ngadu domba kita, aku tetap sayang kamu

Biarpun aku sering telat balas SMSmu, aku tetap sayang kamu

Biarpun…. biarpun lain-lain deh! Pokoknya aku tetap sayang kamu!!!

Guys, I don’t like celebrating Valentine’s day, but I want to take the moment to show my love to you all! Thanks for making my world so colorful, hope our friendship last forever….. God bless you always….

My New Blog…

February 4th, 2007 by riawibisono

Guys, check out my newest blog :

http://riawibisono.wordpress.com

Thank you =)

Welcome 2007!!!

January 4th, 2007 by riawibisono

Doh, sebel banget baru bisa nge-blog sekarang…. Gara2 gempa Taiwan yang sempat bikin koneksi internet terganggu… grrr…. untunglah sekarang sudah bisa lagi… hooray!!!

Ya… pertama2 aku pengen ngucapin selamat Natal dan Tahun Baru buat semua yang baca… mohon maklum kalau pas Natal dan Tahun Baru kemarin saya tidak mengirimkan SMS ucapan selamat… karena HPku cukup overload dengan SMS teman2, udah gitu agak susah kalau ngirim SMS ke operator tertentu, not sent gitu… pada overload kali ya…

Terus… di akhir 2006 kemaren sebenarnya sempat refleksi dikit sih… mengenang2 lagi kejayaan dan kejatuhan di tahun 2006. Jayanya… pas kepilih jadi koordinator divisi Pubdekdok P3K Maba 2006 yang seruuuu abis, pas menang lomba sampe 4x dalem sebulan (bulan Mei emang ajaib), pas magang di AVB (dan jadi panitia APMF), pas IP naik lumayan banyak (sampe terharuuuuu), trus… sempet mampir ke negeri tetangga juga… dapet banyak pengalaman dan kenalan baru… wii… kalo diinget2, seneng banget….

Tapi… ya ada jatuhnya juga… yaitu pas akhirnya aku mutusin keluar dari sebuah lembaga yang sebenarnya sangat aku cintai… pas aku sadar bahwa pertemananku dengan seseorang ternyata sia2 banget…. pas aku mulai susah percaya sama orang lagi (tapi udah pulih sejak ikut P3K), pas aku ketemu ama banyak orang yang gak sepaham dan terjadilah gesekan… yaaa…. banyak juga loh ternyata…

Emang kejayaan ama kejatuhan itu datangnya balance, percaya deh. Pinter2nya kita aja supaya waktu jatuh bisa cepet2 bangkit, dan waktu jaya nggak besar kepala duluan. Dan semuanya itu pasti membawa pelajaran2 berharga buat hidup kita ke depan. Yaa… soalnya aku adalah orang yang berprinsip, living is learning. Hidup itu belajar. Tiap hari, tiap kejadian, tiap orang yang kita temui, pasti mengajarkan sesuatu buat kita. Tinggal kitanya yang bisa nangkep atau enggak.

Then… di awal tahun 2007 ini… aku pengenn… buat new resolutions…

1. Mengerjakan skripsi dengan serajin-rajinnya… supaya bisa lulus dengan nilai A… dan TEPAT WAKTU, Amin…

2. Lebih rajin olahraga!! Karena doyan banget makan, kayaknya susah kalo diet, jadi mending kalo pengen kurus olahraga kan… oh iya, pengen kurus ini dalam rangka jelang wisuda, hahahaha…. lagian kalo ndut biasanya tambah malessss dan bisa mengakibatkan produktivitas berkarya menurun, susah kan?

3. Lebih rajin menulis. Baik dalam blog, maupun untuk konsumsi publik.

4. Lebih banyak baca buku dan bacaan yang bermutu. Lebih banyak nonton film yang bermutu juga, buat mengasah kreativitas.

5. Jadi orang yang nggak terlalu parah cueknya… dan jadi orang yang lebih sabarrr…. (kayaknya ini yang paling susah deh, nyerang karakter sih =p)

6. Rajin cari2 info buat masa depan, seperti : ngelanjutin sekolah, beasiswa S2, sampai prospek kerja.

7. Rajin cari duit dan menabung….

8. Lebih rajin SaTe… walaupun udah keliatan jelas bolongnya di awal tahun.. abis belum beli buku renungan harian huhuhu…

Ya udah segini dulu deh resolusinya… tar kebanyakan malah nggak keturutan lagi…. Doain ya teman2, semoga semuanya bisa terwujud…

Speechless….

December 21st, 2006 by riawibisono

Pernah gak sih kamu ngerasa hepi, terharu, dan sekaligus sedih dalam waktu bersamaan? Kalo udah gitu, apa yang kamu lakukan buat mengekspresikannya?

Ternyata aku bisa juga ngalamin hal itu… dan so speechless.. bingung harus ngomong apa… campur aduk deh…

Hepi karena sahabatku baru aja nelpon dan memberitakan sukses sidang skripsinya….

Terharu karena sahabatku bentar lagi lulus kuliah… akhirnya… dan juga karena terkenang2 masa2 indah kita bersama selama kuliah…

Sedih karena bentar lagi kita pasti lebih jarang ketemu… beberapa semester terakhir aja kita udah juarang banget ketemu, nggak kayak dulu, hampir tiap hari sampe muntah2 (hiperbola yo). Belum termasuk telpon malem2 ngomongin soal HIMAKOMTRA….

Anyway, ndak baik lah kalo sedih ketika sahabat kita sukses, ya nggak? Kita harus berani ngelepas dia buat kesuksesannya kan? Aku percaya, jarang ketemu, jarang komunikasi itu bukan berarti pertemanan kita berakhir gitu aja kok. Kan ada imel, SMS, g-chat, dll…. (walaupun dia paling males bales imel, SMS, apalagi chat, kayaknya kok agak ndak mungkin….)

Ya, intinya aku cuma mau bilang congratz buat sahabatku ini…. semoga dia sukses dengan kehidupan barunya after graduation…. (pasti lah, temenku ini hebat kok)

Tapi, yo tetep sedih pek… bakal jarang ketemu lagi…. pengen nangis huhuhu….. I’ve lost so many friends in my life and I don’t wanna lose anyone again….

Books… Books… Books….

December 9th, 2006 by riawibisono

Surabaya lagi ramah sama pecinta buku. Di Arif Rahman Hakim ada bursa buku murah. Di Kompas Gramedia Jemursari juga. Di Plaza Surabaya, ada Gramedia baru buka, diskon 30%. Senang sekali….

Tadi aku ke Gramedia Plaza Surabaya. Sebenarnya aku cukup anti Gramedia. Soalnya biar lengkap, harganya jauh lebih mahal dibandingin Uranus sama Togamas. Tapi ternyata, kali ini Gramedia lagi bermurah hati. Rame banget jadinya. Orang-orang sibuk memborong buku dan alat tulis. Malah waktu antre bayar di kasir, orang di depanku borong buku sampai 1,6 juta. Kayaknya dia mau buka perpustakaan deh. Banyak banget bukunya, jadi ngiri. Lebih banyak dari orang yang pernah aku lihat belanja 500 ribu di Togamas. Sedangkan aku, belanja buku paling banter sampai 200 ribu. Itu pun sudah siap-siap bokek. Tadi aja aku terpaksa menyisihkan biografi PK Ojong yang mau aku beli. Ya, at least aku udah pernah baca cukilannya di Intisari.

Aku selalu mikir kalau beli buku itu nggak akan pernah rugi. Biarpun ternyata aku nggak suka, kan bisa disimpan, siapa tahu nanti bisa dibaca anak-cucu. Atau kali aja suatu hari aku butuh info dari buku itu. Atau kalau memang parah banget, kan bisa diloak. Nah kalau bukunya bagus, best-seller, aku usahain harus punya. Bisa buat investasi anak-cucu. Biar nanti anak-cucuku pinter-pinter hahahaa… makanya aku ini termasuk shopaholic untuk urusan bacaan. Dalam sebulan, belum tentu aku beli baju baru, tapi pasti ada minimal dua majalah baru yang aku beli. Mirip banget sama Rebecca Bloomwood di Shopaholic yang nggak bisa nahan nafsu belanja.

Cita-citaku, kalau udah kayaaaa nanti, aku mau buka toko buku. Biar bisa baca buku sesuka hati. Terus tokoku nanti bakal senyaman QB. Selengkap Kinokuniya. Secantik Periplus. Karyawannya seramah Gramedia. Dan harganya semurah Uranus/Togamas. Dan ada cafenya. Ada contoh buku yang nggak diplastik dan boleh dibaca. Waaa… bangkrut dong, hehehe…

Daftar buku yang benar-benar aku suka :

1. Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

2. Confessions of A Shopaholic – Sophie Kinsella

3. Undomestic Goddess – Sophie Kinsella

4. The Devil Wears Prada – Lauren W.

5. Parasit Lajang – Ayu Utami

6. Panggil Aku Peng Hwa – Veven Sp Wardhana

7. Doa Sang Katak – Anthony de Mello

8. Chicken Soup for The Single’s Soul

9. Rome Sweet Home

10. Gallery of Kisses – kumpulan cerita pendek  

11. Bukunya Enid Blyton dan Roald Dahl

Daftar buku yang sudah aku baca cukilannya – dan aku tertarik :

1. Hidup Sederhana, Berpikir Mulia (kalo nggak salah) – biografi PK Ojong

2. Buku tentang tradisi Carok terkait dengan harga diri orang Madura

3. Buku tentang cewek yang operasi plastik berkali-kali

4. dan banyak lagi… thanks to majalah Intisari yang setia mencukilkan buku-buku bermutu….

Daftar buku yang pengen aku baca :

1. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca dari Tetralogi Pulau Buru Pramoedya (bisa pinjam di perpustakaan, terus nabung buat beli cetakan terbarunya)

2. Buku-buku Pramoedya yang lain deh! Terutama Hoakiau di Indonesia

3. Indonesia dalem Api dan Bara – Tjamboek Berdoeri

4. The Toyota Way

5. Lanjutannya Shopaholic (Ties The Knot, Goes to Manhattan, and Sister)

6. Saman dan Larung  Ayu Utami

7. Blue Ocean Strategy (menggoda banget tuh tadi di Gramedia)

8. Chicken Soup for The Single’s Soul part 2 – kalau udah terbit

9. Buku-bukunya Soe Hok Gie (ini bisa pinjem temenku hahaha…)

10. Hell Yeah!! Biografi Wimar Witoelar – ini nunggu oleh-oleh dari Jakarta hahahaa..

11. Diary of Anne Frank – pasti nangis bombay deh baca ini…

12. Mau belajar baca bukunya GM juga…

Pramoedyaholic

December 9th, 2006 by riawibisono

Belakangan ini aku jadi Pramoedyaholic. Bermula dari iseng-iseng pinjam Bumi Manusia di perpustakaan, dua hari kemudian aku sudah balik kucing buat pinjam lanjutannya, Anak Semua Bangsa. Padahal, niatan awalku baca Bumi Manusia sih cuma buat keren-kerenan aja. Sebagai orang yang ngaku gila baca, masak sih sampai umur 21 belum pernah baca karya Pramoedya Ananta Toer sama sekali?

Dulu, aku takut baca bukunya Pramoedya karena takut nggak cukup cerdas untuk mengerti. Apalagi pemberitaan media selalu mengedepankan Pram sebagai sastrawan terbesar Indonesia yang layak mendapat hadiah Nobel. Ternyata, puji Tuhan, aku bisa cukup menyerap tulisannya. Dan itu yang buat aku super kagum sama Pram. Kenapa?

Yang pertama, aku selalu kagum sama penulis yang bisa membuat pembacanya merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya. Berada di tempat yang mereka gambarkan dengan kata-kata saja. Bahkan, yang paling ekstrim, membuat pembaca seolah hidup di jaman yang ditentukan di tulisannya. Pram memenuhi ketiga kriteria itu. Hebatnya, kalau dipikir secara logika, dia sendiri tidak hidup di zaman Bumi Manusia. Cerita itu ber-setting akhir tahun 1800-an. Kalau Pram sudah hidup saat itu (dalam usia minimal 18 tahun, bukan baru lahir, karena kalau dia masih bocah, belum cukup dewasa untuk memahami gejolak sosial politik masanya – apalagi menuliskannya), mestinya dia sudah bisa masuk MURI sebagai manusia tertua di Indonesia (dia kan baru-baru aja meninggalnya, lahir juga 1925). Lagian, novel itu ditulis tahun 1970-an.

Menurutku, Pram bisa menuliskan kehidupan masa itu dengan lancar karena dia banyak membaca. Mungkin, dia terinspirasi oleh Max Havelaar (bukunya Multatuli alias Douwess Dekker, yang juga lagi aku pinjam dari perpustakaan). Karena Pram sempat menyebut karya itu dalam bukunya. Juga, buku Nyai Dasima. Buku itu menjadi favorit salah satu tokoh dalam Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh. Yang jelas, dia juga pasti banyak membaca buku sejarah. Ini alasan keduaku untuk kagum sama Pram, dia benar-benar mengadakan riset secara serius untuk memperkaya bukunya.

Yang ketiga, berapa banyak sih penulis yang bukunya bisa bertahan dibaca sampai bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun? Pram mampu melakukannya. Buku-bukunya masih terpajang di toko-toko buku dengan tampilan lebih modern. Aku rasa, buku Pram bisa begitu sakti karena nilai historis di dalamnya. Memang buku-bukunya fiksi, tapi setting waktu dan tempatnya benar-benar nyata. Mungkin hanya tokoh dan kisah hidupnya yang merupakan imajinasi Pram. Namun, kadang aku merasa, tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia dengan segala kompleksitas hidupnya, dapat merepresentasikan tokoh-tokoh nyata dalam kehidupan tahun tersebut. Pribumi yang memuja ilmu pengetahuan Eropa tanpa menyadari keterpurukan bangsanya. Pribumi yang dikucilkan baik oleh sebangsanya maupun oleh kolonial, karena statusnya sebagai nyai (pasangan hidup pria Belanda yang tidak dinikahi secara sah). Orang-orang Belanda yang angkuh, ada pula yang liberal. Aku yakin tipe-tipe kepribadian seperti itu, pernah hidup di zamannya.

Pram juga punya kebiasaan menulis sebagai salah satu tokoh di bukunya. Dia menulis sebagai Minke, tokoh utamanya, untuk menceritakan peristiwa menurut sudut pandang Minke. Lain waktu, dia berganti menjadi Panji Darman, yang menulis surat untuk Minke. Hebatnya, bila sebagai Minke Pram menulis dengan bahasa indah dan terpelajar (Minke digambarkan sebagai pemuda cerdas dan suka menulis), sebagai Panji Darman Pram menulis dengan ceroboh, dengan alur yang melompat-lompat, karena memang Panji bukan tokoh yang pandai menulis. Demikian pula bila ia menulis sebagai Sarah/Miriam de La Croix, bertutur sebagai Maiko, Annelies, Nyai Ontosoroh, dan lain sebagainya. Pram benar-benar larut dalam karakter pribadi setiap tokohnya. Bahkan dengan latar belakang Panji yang penganut Kristen, Pram membubuhkan kalimat yang menggambarkan iman Kristiani dalam surat yang ditulis Panji. Lain waktu, ketika dia bertutur sebagai Darsam yang muslim, dia menggunakan istilah Islami. Itulah yang membuat pembaca bisa-bisa menyangka, karyanya bukan fiksi. Pram bisa membuat tokoh-tokohnya benar-benar ‘hidup’!

Sayang banget sastrawan sebesar Pramoedya Ananta Toer telah berpulang. Sulit menemukan karya seperti karyanya di zaman sekarang. Hebohnya, karya-karya Pram yang dulu harganya cuma 6000-an, sempat dilarang beredar pula, saat ini dicetak ulang dengan tampilan yang menawan, dengan harga yang tinggi untuk ukuran buku lokal. Bahkan di Gramedia, karyanya diletakkan di bagian Buku Laris. Itulah mengapa, walaupun pengen banget punya Tetralogi Pulau Buru (empat buku yang ditulis Pram semasa ditahan di Pulau Buru), aku harus menahan diri dulu. Untuk saat ini, aku harus puas sama 2 buku Pram yang harganya terjangkau. So, kalau pengen beliin aku hadiah Natal kek, atau ultah kek (biar telat juga nggak pa-pa), Tetralogi Pulau Buru adalah pilihan yang tepat, hehehe….

Super Duper Nganggur…

December 5th, 2006 by riawibisono

Setelah menyelesaikan magangku selama 3 bulan….

Setelah menyelesaikan laporan magang setebal 100 halaman lebih….

Setelah sidang magang yang ternyata nggak seserem bayanganku…

Akhirnya aku nganggur. Paling tidak, aku punya waktu cukup lama sebelum liburan Natal (di mana as usual, aku bakal pulang kampung) dan memulai skripsiku.

Well, emang aku masih harus nyetak foto dan nunggu hardcover laporanku selesai… tapi just it. Nggak ada rapat2, nggak ada proposal atau LPJ yang nunggu diperiksa, nggak ada acara2 yang harus dihadiri, nggak ada tugas2 yang bikin gila.

Sebenernya enak juga loh nganggur gini. Aku jadi punya banyak waktu untuk diriku sendiri. Aku bisa nonton TV sepuasku, bisa baca buku sebanyak yang aku mau, bisa maen game sesuka hati, bisa ngapa2in aja pokoknya. Tapi kadang aku merasa, ini nggak aku banget. Nggak menghasilkan apa2 dan nggak berguna.

Sempat kepikiran, apa ndaftar panitia acara kampus aja yah? Tapi ndak enak rasanya, karena kalau aku keterima, itu berarti aku telah membunuh kesempatan satu mahasiswa lain yang mungkin lebih butuh ikut panitia itu, buat pengalaman dia. Jadi aku memutuskan hanya akan terlibat dalam kepanitiaan yang bener-bener sangat amat membutuhkan aku, atau kepanitiaan yang nggak pernah aku ikuti sebelumnya.

By the way, karena nganggur aku jadi banyak baca. Kemaren aku ke perpus, pinjem 3 buku. Yang pertama, Jurnal Perempuan tentang Perempuan dan Fundamentalisme (aku peminjam pertama untuk buku itu loh). Kedua, Chicken Soup for the Soul, edisi ke-5 (yang bikin aku kepengen nangis aja bacanya). Ketiga, menarik neh, bukunya Pramoedya berjudul Bumi Manusia. Edisi pertama dari tetralogi Pulau Buru. Menarik karena Pram bisa bener-bener membawa pembacanya ke suasana jaman itu. Menarik karena biar bahasa dan istilah jadulnya banyak yang tidak aku mengerti, aku tetap bisa ngelanjutin baca.

Oh iya, aku juga sudah menamatkan Confession of a Shopaholic dan pengen banget baca seri berikutnya. Pengen baca lanjutannya Bumi Manusia juga. Pengen baca Saman dan Larung. Pengen baca Chicken Soup lagi. Duh, pengen ke perpus lagi…

Semangat 45!!

November 9th, 2006 by riawibisono

Belakangan ini aku bener2 jadi kelelawar. Rekor terakhir tidur jam 2.30 subuh abis ngeprint laporan akhir. Besoknya di kantor langsung ke studio buat offline editing. Padahal mataku udah nggak karuan bentuknya karena kurang tidur.

Tapi aku semangat banget ngeditnya. Karena proyek ini menarik banget. Semacam film gitu, durasi sekitar 30 menit. Ternyata ngedit film itu menyenangkan ya… bisa ngatur2 hidup orang yang ada di filmnya. Ngatur emosinya, pasang surutnya. Dan nyari lagu yang cucok buat adegannya. Aku seneng banget sama hasil editanku (maklum orang narsis, tapi kata editor yang senior editanku lumayan kok =p). Soalnya lagu-lagu yang aku pake lucu2… seru… tapi ya aku harus sadar diri lah, tujuan film ini tuh menyentuh hati penonton, jadi aku nggak bisa menggarapnya dengan suasana ceria. Harus balance lah… kalo scene-nya sedih ya lagunya yang menyayat. Maka dari itu aku nggak jadi pake lagunya Ada Band yang Pura-Pura Cinta, padahal aku suka banget lagunya, lucu gitu kalo dipake.

Aduh aku benernya pengen banget cerita isi filmnya… tapi ini kan proyek rahasia jadi nggak bisa… Tapi senang loh, udah naik pangkat, dulu editor majalah, sekarang lumayan bisa ngedit video, walaupun cuma sampai offline aja (kalo sampe finishing kapan selesainya, aku kan baru belajar, udah dikejar deadline niehhh)

O iya karena sibuk nyari lagu buat film ini, para editor memanfaatkan kesempatan buat minta aku sekalian nyariin lagu buat video pre wedding orang2. Dan keluarlah lagu macam ‘Dillema’, ‘Accidentally in Love’ dan lagu2 ceria lainnya. Bosen soalnya, mentang2 pre wedding suka pada mellow… (tapi tenang saja wahai para klien Art Wedding Video, pilihan laguku langsung ditolak mentah2 di jajaram editor hahaha)

Aku pengen banget nih suatu saat garap video pre wedding yang konsepnya nyleneh. Misalnya punk rock, funky, atau hilarious. Menurutku bakal lebih menghibur, toh diputernya kan pas resepsi bukan pemberkatan/akad nikah. Tapi siapa yang mau juga ya, soalnya rata2 orang wedding kan ngundang temen papa mamanya, bukan temen2nya. Tar pada jantungan lagi kalo dikasih lagu Metallica, Gun n Roses, Jamrud, Harapan Jaya, Es Nanas, dan band2 pilihanku lainnya. Kalo aku sendiri sih males bikin video pre weddingku sendiri hehehe…. Aku kan orang behind the screen tulen, nggak berminat to be on the screen…

So, kalo ada yang kepengen video pre wedding tema nyeleneh kayak ideku, hubungi saja diriku. Dengan senang hati aku akan membantu hahahaa….