Di ruang tunggu sebuah klinik gigi, tak sengaja saya menemukan sebuah majalah bilingual Indonesia-Jepang. Ada salah satu artikelnya (dalam bahasa Indonesia tentu saja, saya tidak bisa berbahasa Jepang), yang menarik perhatian saya. Di situ diceritakan bahwa perempuan Jepang ternyata tidak cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa dirinya cantik.
Kenapa bisa begitu? Setelah diusut, ternyata laki-laki Jepang sangatlah pelit dalam memuji perempuan. Jarang ada laki-laki Jepang yang mengatakan kepada seorang perempuan – walaupun perempuan itu kekasihnya – bahwa dirinya cantik. Karena tidak pernah mendapat pengakuan dari lawan jenis itulah perempuan Jepang tidak cukup berani untuk mengatakan bahwa dirinya cantik. Berbeda dengan perempuan Barat, yang cenderung lebih percaya diri, karena kaum laki-lakinya tidak pelit mengobral pujian.
Dalam hati saya, muncul sebuah pertanyaan : apakah untuk merasa bahwa diri Anda cantik, Anda butuh pengakuan dari orang lain? Kalau seumur hidup tidak ada seorang pun yang mengatakan Anda cantik, apakah sampai mati Anda akan beranggapan Anda buruk rupa? Padahal mungkin saja wajah Anda sebenarnya cantik sekali. Apa ini yang disebut kebutuhan aktualisasi diri dalam hirarki kebutuhan Maslow?
Padahal, konsep kecantikan itu berbeda-beda bagi setiap pribadi. Ada yang bilang, perempuan sekurus Kate Moss itu cantik. Tapi bagi sebagian orang, Kate Moss terlalu kurus. Agnes Monica yang bagi saya cukup cantik saja, menurut teman saya tidak begitu cantik. Lagipula, konsep kecantikan selalu berubah setiap masa. Pernah ada suatu masa di mana perempuan montok dianggap cantik, kemudian di masa lain perempuan atletis digemari, pernah juga perempuan super kurus menjadi idola, sementara kini perempuan yang dianggap ideal adalah yang bertubuh langsing. Itu pun masih ada saja yang lebih suka perempuan yang lebih montok atau lebih kurus.
Ngomong-ngomong soal konsep kecantikan, saya punya cerita menarik.
Kemarin, di suatu kelas, dosen saya menceritakan pengalamannya di Cina. Waktu itu ia dan temannya - Cina asli - sedang duduk di taman sambil memandangi perempuan-perempuan yang lalu lalang. Si dosen berulang kali memuji kecantikan beberapa perempuan. Tapi bagi temannya, tak satu pun dari mereka yang dipuji itu cukup cantik. Kenapa?
Si teman rupanya punya konsep kecantikan yang berbeda dengan dosen saya, dan mungkin juga lain dengan konsep kecantikan orang Indonesia kebanyakan. Bagi dia, perempuan yang cantik adalah mereka yang penampilannya mencerminkan kebangsawanannya. Dan, perempuan noble di Cina adalah mereka yang matanya sipit (semakin sipit, semakin noble). Jenis mata yang mungkin tidak menarik bagi kebanyakan orang Indonesia.
Selain itu, perempuan noble adalah mereka yang bentuk wajahnya persegi. Padahal begitu banyak orang mengidolakan bentuk wajah oval yang katanya ideal dengan semua model rambut. Yang terakhir, semakin hitam bola matanya, semakin noble perempuan itu. Ironis bukan, mengingat betapa banyak perempuan bermata hitam yang malah mengenakan contact lens berwarna biru, hijau, atau coklat.
Dan benar saja, ketika dosen saya itu melihat-lihat slide foto perempuan-perempuan istana Cina (permaisuri, ibu suri, pokoknya semua perempuan bergelar zaman itu), beliau menemukan wajah-wajah persegi bermata sipit dan berhidung mancung terbalik (baca: pesek). Sebuah penemuan yang mengejutkan bukan?
Bagaimana dengan perempuan-perempuan berhidung bangir, berwajah oval dan bermata lebar? Percayalah, perempuan-perempuan se’cantik’ itu dengan mudah dapat Anda temui di Cina, sebagai kondektur bus, penjual keliling, dan pekerja kasar. Menurut teman si dosen, mereka itu adalah perempuan dari daerah pinggiran, perbatasan dengan Rusia. Mungkin karena itu, di Cina sendiri mereka dianggap kurang cantik, melihat wajah mereka yang tidak begitu ‘Cina’. Dosen saya protes, bagaimana dengan para artis Cina yang wajahnya kurang lebih seperti mereka? Temannya menyanggah dengan mengatakan artis-artis itu umumnya berasal dari Taiwan atau Hongkong, bukan asli Cina daratan.
Jadi, kalau semua orang punya konsep kecantikan masing-masing, kenapa harus takut untuk merasa cantik? Toh, walau tidak ada orang di sekeliling kita yang pernah memuji kecantikan kita, di belahan dunia lain mungkin saja wajah seperti kita dipuja-puja. Lagipula, konsep diri kita, bagaimana kita memandang diri kita, itu jauh lebih penting daripada pandangan orang lain tentang kita. Kalau kita nyaman dengan fisik kita, perasaan ‘cantik’ itu akan terpancar dengan sendirinya dan orang lain bisa ikut merasa bahwa kita ‘enak dipandang’. Plus, kecantikan fisik pun tidak ada gunanya bila tidak diimbangi dengan kepribadian dan otak yang brilian bukan?
Saya sendiri, saya tidak butuh pengakuan orang lain untuk merasa diri saya cantik. Anda boleh bilang saya narsis, tapi, sadar atau tidak, penggambaran konsep kecantikan perempuan bangsawan Cina di atas sangat mendekati sosok fisik saya ;p