Mestinya ini di-post kemaren… tapi sayang internet rumah lagi gampang error…. so, baru saya bisa post hari ini…
Buat seorang Ria, hidup adalah krisis. Setidaknya untuk minggu ini. Gilaaa…. tugasnya banyaaaakkk… belum lagi ada tes-tes. Yang lebih parah, pendaftar P3K yang pengen diwawancara menumpuk-numpuk. Rasanya sampai berbusa deh wawancara satu per satu.
Hari ini krisisnya adalah tes Komunikasi Lintas Budaya. Dasar pasukan berani mati, saya belum belajar sama sekali. Tes jam 3, oral exam pula. Sekali salah menjawab, tak ada ongkos tulis. Untung ada Mok, Emil, en Lili yang enak diajak belajar bareng. Saking kompaknya, kita sampai punya gaya-gaya tertentu buat menghapal poin-poin KLB.
Tapi tetap saja, tegang banget waktu masuk ruang dosen…..
Dan kita pertama-tama malah disuruh nulis 5 fungsi komunikasi non verbal… yang jelas-jelas kita taunya cuma ada 4 poin….
Pertanyaan berikutnya beda untuk tiap orang… ada 8 orang yang dites karena kita digabungin sama kelompok sebelumnya. Miss Yola udah cukup suntuk gara-gara ngetes banyak orang dalam satu hari rupanya.
Dan sampai giliran saya (terakhir, hix…), Miss Yola bingung mau nanya apa. Akhirnya keluar pertanyaan, explain how studying communication nonverbal can help us discover values and attitudes underlying a culture. Untung, bab komunikasi non verbal cukup saya kuasai. Coba ditanya language and culture, saya pasti meracau. Bab itu nggak kita baca sama sekali, cuma di-scanning skimming sekilas ala speed reading. Ngerti sih iya, tapi kalau hafal enggak.
Finally, nilai diumumkan. Awalnya sih saya dapat 83,5. Tapi Miss Yola berbaik hati memberi extra quiz with extra score. Pertanyaan pertama tentang karakter budaya dijawab mulus oleh Mok. Pertanyaan kedua tentang elemen budaya disambar Emil. Jelas aja kita paling hafal, karena poin itu kita bahas berkali-kali. Untung, pertanyaan ketiga tentang siapa yang mengemukakan istilah high context-low context culture. Belum selesai Miss Yola ngomong, saya sudah menjerit : “Edward T Hall!” Thanks Sir Edward, I owe you 1 extra point! Hehehee… nggak sia-sia saya menekuni bab high context-low context culture.
Ngomong-ngomong soal high-low context, menarik banget lho. Menurut Hall, high context culture itu dianut orang Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Kata kuncinya adalah collectivism. Ini mendasari budaya dan komunikasi mereka. Orang high context itu mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, keharmonisan tim daripada pencapaian individu. Mereka menyukai kerja sama, dan hidup harmonis dengan alam. Mengandalkan intuisi, mereka lebih mementingkan komunikasi non verbal daripada verbal. Mereka juga suka menggunakan bahasa indah, berbunga-bunga, rendah hati, dan permohonan maaf sangat diharapkan. Tradisi dipertahankan, sulit berubah karena orientasi mereka adalah masa lalu.
Beda banget sama orang low context (Amerika Utara, Eropa terutama bagian barat) yang mementingkan individualisme. Mereka suka persaingan, mengandalkan logika dan berpikir linier. Penyelesaian masalah dan penyimpulan selalu berdasar fakta yang akurat. Mereka merasa memiliki kendali atas lingkungan. Komunikasi non verbal tidak diperhitungkan, mereka suka straight to the point, ada freedom untuk bertanya dan menuntut perubahan. Perubahan lebih penting daripada tradisi, karena berorientasi pada masa kini dan masa depan.
Anehnya, walaupun saya seorang Asia, tapi saya merasa saya lebih low context daripada high context. Terutama dalam cara komunikasi saya yang straight to the point. Saya benci basa-basi. Tapi tetap, ada aja sisi high context yang melekat pada diri saya, yaitu cara pandang terhadap waktu. Orang low, mestinya memiliki cara pandang monochronic time. Artinya waktu dipersepsi sebagai sesuatu yang linier, sehingga tidak bisa berputar kembali, tidak bisa diulang kembali. Maka, manfaatkanlah dengan baik, fokus pada satu hal untuk satu jangka waktu. That’s why they say time is money. Tapi orang high (dan saya) memandang waktu sebagai sesuatu yang sirkular. Cara pandang yang polychronic. Waktu bisa kembali lagi, tidak ada masalah mengurus banyak hal dalam satu jangka waktu. Jadi cenderung lebih santai dan kurang menghargai waktu. Yah, jam karet gitu deh.
Sebenarnya sih saya memandang waktu dengan cara pandang monochronic. Tapi pada prakteknya, saya masih suka buang-buang waktu. Masih polychronic banget. Makanya sering on crisis. Anybody can help me in this problem?