The Most Precious Present in Life is The Life Itself….

Beberapa hari terakhir, aku mikir tentang satu topik yang mungkin bikin bulu kuduk bergidik. Sesuatu yang nggak terlalu sering dibahas orang, padahal semua orang pasti akan mengalaminya. Siapa sih manusia yang pada akhirnya nggak berpulang ke Sang Pencipta?
Beberapa hari lalu mamaku cerita tentang seorang anak kenalannya yang meninggal karena kecelakaan. Sementara sebelumnya papanya temen papaku juga meninggal. Dan hari ini, aku terima kabar bahwa papa seorang temanku meninggal. Aku jadi sadar, orang nggak bisa lari dari takdir ini. Kematian bisa datang kapan saja. Banyak orang Kristen yang menafsirkan perkataan Yesus tentang kedatangan Anak Manusia yang seperti maling di malam hari sebagai nubuatan tentang hari kiamat. Tapi bagiku, perkataan itu maknanya sama dekatnya dengan kematian. Bukankah kematian seringkali datangnya juga seperti maling di malam hari, tanpa gelagat dan tanpa pertanda? Bahkan ketika orang meninggal karena sakit parah pun, keluarganya kadang juga merasa kaget saat orang itu akhirnya meninggal.
Belum lagi, orang yang meninggal karena bencana seperti korban gempa, tsunami, dan terorisme. Mereka sempat merasakan ketakutan yang dashyat saat maut menjemput. Aku baca berita tentang kesaksian keluarga korban 911, betapa mereka harus menanggung trauma setelah mendengar suara terakhir rekan,kekasih, atau keluarganya di telepon. Suara minta tolong, suara ketakutan, suara sedih…. Mereka pasti masih punya banyak mimpi dalam hidupnya. Mungkin ada yang lagi nunggu dilamar sama pacarnya. Mungkin ada yang nunggu kelahiran anaknya. Mungkin ada yang beberapa hari lagi bakal diwisuda. Mungkin ada yang berencana beli hadiah buat orang tuanya. Semuanya itu nggak kesampaian karena hidupnya berakhir dalam tragedi.
Jadi inget cerita dosenku, tentang pengalamannya nyaris dijemput maut. Saat itu pesawat yang ditumpanginya hampir mengalami kecelakaan. Saat itu ia hanya berpikir, ia belum sempat memainkan play station yang didekapnya selama perjalanan. Ya, kadang di saat kematian terasa begitu dekat, keinginan yang begitu sederhana pun bisa membuat manusia tak rela hidupnya berakhir.
Ada juga orang yang harus menghadapi maut pada saat yang ia ketahui. Misalnya orang yang dihukum mati. Aku selalu ngeri membayangkan terpidana mati yang menunggu eksekusi. Kekejaman apa pun yang pernah dia lakukan, aku tetap nggak setuju dia dihukum mati. Bagiku itu sangat mengerikan. Mungkin aja kalo dia dibiarin hidup, dia bisa tobat dan berguna bagi sesama. Kalaupun kehidupannya begitu membahayakan, paling tidak dia bisa diisolasi di penjara, itu sudah cukup menyiksa. Tapi at least, dia masih bisa hidup. Dan mungkin masih ada jalan baginya untuk memberi arti dalam kehidupannya.
Hmmm… tapi sebagai orang yang percaya pada ajaran Kristus, aku juga yakin ada kehidupan baru setelah kematian. Kematian seseorang tak akan pernah sia-sia. Yang aku rindukan hanyalah memberi arti dalam kehidupan yang singkat ini. Baik bagi sesama maupun orang lain. Ya… walaupun sempat gak enak hati waktu kepikiran tentang kematian, aku sadar bahwa Tuhan lagi ngajari aku untuk tidak menyia-nyiakan hidup. Paling nggak aku pengen ketika aku mati, ada sesuatu dari diriku yang berarti buat dunia. Yang membuat dunia nggak begitu saja melupakan seorang manusia bernama Ria. Misalnya, ya dengan membagikan pikiranku lewat blog ini… aku harap blogku bisa ngasih inspirasi buat semua yang membacanya…
Dan sejak aku kepikiran tentang hidup dan mati, aku jadi bisa mengucap syukur setiap pagi ketika aku mendapati diriku masih hidup setelah tidur… Sesuatu yang simpel, yang merupakan rutinitas, tapi sebenarnya sangat berharga…
Karena hidup itu begitu berarti…. please jangan pernah menyia-nyiakannya…

Leave a Reply