Archive for November, 2006

Semangat 45!!

Thursday, November 9th, 2006

Belakangan ini aku bener2 jadi kelelawar. Rekor terakhir tidur jam 2.30 subuh abis ngeprint laporan akhir. Besoknya di kantor langsung ke studio buat offline editing. Padahal mataku udah nggak karuan bentuknya karena kurang tidur.

Tapi aku semangat banget ngeditnya. Karena proyek ini menarik banget. Semacam film gitu, durasi sekitar 30 menit. Ternyata ngedit film itu menyenangkan ya… bisa ngatur2 hidup orang yang ada di filmnya. Ngatur emosinya, pasang surutnya. Dan nyari lagu yang cucok buat adegannya. Aku seneng banget sama hasil editanku (maklum orang narsis, tapi kata editor yang senior editanku lumayan kok =p). Soalnya lagu-lagu yang aku pake lucu2… seru… tapi ya aku harus sadar diri lah, tujuan film ini tuh menyentuh hati penonton, jadi aku nggak bisa menggarapnya dengan suasana ceria. Harus balance lah… kalo scene-nya sedih ya lagunya yang menyayat. Maka dari itu aku nggak jadi pake lagunya Ada Band yang Pura-Pura Cinta, padahal aku suka banget lagunya, lucu gitu kalo dipake.

Aduh aku benernya pengen banget cerita isi filmnya… tapi ini kan proyek rahasia jadi nggak bisa… Tapi senang loh, udah naik pangkat, dulu editor majalah, sekarang lumayan bisa ngedit video, walaupun cuma sampai offline aja (kalo sampe finishing kapan selesainya, aku kan baru belajar, udah dikejar deadline niehhh)

O iya karena sibuk nyari lagu buat film ini, para editor memanfaatkan kesempatan buat minta aku sekalian nyariin lagu buat video pre wedding orang2. Dan keluarlah lagu macam ‘Dillema’, ‘Accidentally in Love’ dan lagu2 ceria lainnya. Bosen soalnya, mentang2 pre wedding suka pada mellow… (tapi tenang saja wahai para klien Art Wedding Video, pilihan laguku langsung ditolak mentah2 di jajaram editor hahaha)

Aku pengen banget nih suatu saat garap video pre wedding yang konsepnya nyleneh. Misalnya punk rock, funky, atau hilarious. Menurutku bakal lebih menghibur, toh diputernya kan pas resepsi bukan pemberkatan/akad nikah. Tapi siapa yang mau juga ya, soalnya rata2 orang wedding kan ngundang temen papa mamanya, bukan temen2nya. Tar pada jantungan lagi kalo dikasih lagu Metallica, Gun n Roses, Jamrud, Harapan Jaya, Es Nanas, dan band2 pilihanku lainnya. Kalo aku sendiri sih males bikin video pre weddingku sendiri hehehe…. Aku kan orang behind the screen tulen, nggak berminat to be on the screen…

So, kalo ada yang kepengen video pre wedding tema nyeleneh kayak ideku, hubungi saja diriku. Dengan senang hati aku akan membantu hahahaa….

Listani

Sunday, November 5th, 2006

Aku baru sadar betapa tidak terkategorisasinya blogku ini. Jadi aku memutuskan buat bikin blog yang well-categorized. Dan hari ini, pertama kalinya aku nulis sebuah blog di kategori Friendz…  Aku pengen nulis tentang teman2 terdekatku yang spesial buat aku. Soalnya kalo nulisnya di testimonial kurang puasss…. Udah ada beberapa nama yang terpikirkan sih… tapi berhubung cewek satu ini besok mau ultah jadi dia dapet giliran pertama…

Besok, tepatnya tanggal 6 November 2006, temenku Listani ini bakal ngerayain ultahnya yang ke-21. Malem ini sebenarnya dia ngundang temen2 deket ke kostnya buat makan2 (masak sendiri loh). Sayangnya aku ndak bisa dateng karena masih di Bali.

Lista… I knew this girl from a leadership training camp held by my campus. Kalo dipikir2 baru 1 taon yang lalu, bulan Maret 2005 aku tau dia. Itu pun cuma sekedar tau… gak sampai kenalan. Walaupun kita sempat sekelompok tapi ndak saling ngobrol… aneh ya?

Then sebulan kemudian aku ikut LKMM-TD di mana Lista jadi ketua panitia acaranya. Baru dari sana kita mulai saling bicara. Honestly, aku berpikiran agak negatif tentang dia. Di satu sisi aku kagum sama ketegasannya, di sisi lain aku pikir dia sombong dan apatis sama orang lain. And believe it or not, ternyata dia juga punya pandangan yang kurang lebih sama tentang aku di awal perkenalan kita.

Sialnya, aku dan dia dipertemukan nasib di dalam BPMF 1. Sialnya lagi, dia kepilih jadi ketua BPMF. Jujur aku lumayan takut karena aku berprasangka bahwa dia adalah orang yang berpikiran konservatif seperti BPMF sebelumnya. Sementara aku ingin mengubah paham konservatif tradisional itu supaya BPMF bisa lebih relevan dengan situasi dan kondisi.

Tapi siapa sangka, ternyata kita bisa jadi partner yang oke. Padahal banyak orang di luar sana yang khawatir kalo kita bakal bertengkar. In fact, hampir semua pemikiran kami sejalan. Banyak kesamaan di antara kita, contohnya sama2 Scorpio, sama2 suka warna ungu, sama2 stubborn, sama2 dominan (tapi lebih dominan dia deh =p) and so on. Untungnya selera cowok kita ndak sama, bisa rebutan dong ntar hahaha…. (selera cowokmu lumayan aneh si Mbok…)

Temanku yang satu ini cukup multi-talented. She sings well… plays some music instrument too… good taste of art, and she was born to be a leader. Walaupun sosoknya terlihat keras, Lista punya kelembutan hati yang mungkin melebihi perempuan-perempuan yang tampak lembut di luar. Dari dia aku semakin belajar bahwa kita nggak bisa begitu cepat menilai seseorang hanya dari satu-dua kejadian. She can cook also, do household tasks… very very independent, smart, open minded, and dare to speak out her mind.

Persahabatan kita tambah erat menjelang akhir semester lalu karena satu insiden yang sebenarnya nggak enak banget…. kayaknya mending nggak usah dibicarain lah. Tapi salut banget buat ketegaran dan kegigihannya untuk membuktikan kebenaran.

Back to main topic, besok temanku ini bakal ultah… jujur sampe hari ini aku masih belum nyiapin kado buat dia. Dan tambah ngeri waktu dia cerita kado2 yang dia terima hari ini… gila2an soalnya. Emang dia bilang, aku SMS aja dia udah seneng kok… tapi aku ndak mau cuma SMS ah….

God, thanks for giving this girl a beautiful life for 21 years….

and thanks for a more beautiful life You granted for her next years…

You know all the best for Lista, since Your plan is the most perfect of all

I hope that she will be always on Your path… of truth, rightness and wisdom…

I pray for her study, her service, her dreams, her family, and her spouse…

Hope that she will find a man after Your own heart to be her mate…

And hope that our friendship will be forever…

Just like David and Jonathan… Mary and Elizabeth…

Amen….

Close your eyes, make a wish…

Happy birthday, Lista….

Setelah begadang2….

Saturday, November 4th, 2006

Akhirnya laporan akhirku udah aku kirim ke dosen pembimbingku. Kalo di-approve bisa langsung diprint dan dikirim. Thanks God di tengah kesibukan kerja aku masih bisa nyelesaiin laporanku….

Semoga dapet nilai A, kalo gak bisa gila… 100 halaman lebih mbok… belum termasuk lampirannya… aku aja sekarang bingung apa aja yang harus dilampirin, banyaaaak banget kayake….

Kok Ndak Mau Bobok Seh??

Wednesday, November 1st, 2006

Kenapa kok aku ndak mau bobok ya?

Padahal besok jam 6 subuh udah harus di kantor…. mau shooting….

ayo Ria bobok…

Kapan ya Masuk Prokon Aktivis Lagi??

Wednesday, November 1st, 2006

Jawa Pos, Jumat (1 Juli 2005), kolom Prokon Aktivis

Learning for Living
Oleh Ria Angelia Wibisono *
Di era globalisasi ini, persaingan dalam dunia kerja semakin ketat. Untuk menghadapinya, para orang tua masa kini mempersiapkan putra-putrinya melalui pendidikan yang bermutu.
Bahkan, persiapan itu dimulai sejak usia dini. Tidak menunggu hingga mereka cukup umur untuk masuk taman kanak-kanak (TK), tetapi sudah didaftarkan di lembaga pendidikan prasekolah (kelompok bermain/play group). Karena itu, wajar bila lembaga pendidikan prasekolah berdiri di mana-mana, bak cendawan di musim penghujan.
Idealnya, keberadaan lembaga pendidikan prasekolah tersebut sangat membantu orang tua dalam mendidik anaknya. Usia prasekolah adalah usia yang cukup penting untuk membentuk kepribadian seorang anak. Semakin bertambah usia akan semakin sulit mengubah kepribadian mereka.
Karena itu, pada usia prasekolah, sisi emosional seorang anak harus diasah. Mereka harus mulai belajar sopan santun, etika, moral, dan sebagainya. Tentu bukan dalam arti teoretis, melainkan praktis.
Contohnya memberi salam kepada orang tua, berbagi dengan saudara, menolong orang lain, dan banyak lagi. Selain itu, dalam usia anak yang masih kecil, mereka perlu belajar melakukan hal-hal sederhana.
Contohnya membersihkan diri, buang air (toilet training), makan, berpakaian, dan sebagainya. Istilahnya, learning for living, belajar untuk hidup. Lembaga pendidikan prasekolah dapat mengajar mereka melakukannya, dengan beberapa bonus tambahan.
Misalnya, anak-anak jadi bisa bersosialisasi dengan orang di luar keluarganya (guru, teman-teman). Lalu mereka juga dapat lebih siap menghadapi bangku sekolah, karena sudah terbiasa dengan jadwal harian, guru, dan sebagainya.
Tetapi, keberadaan lembaga pendidikan prasekolah juga memiliki kelemahan. Pertama, lembaga-lembaga tersebut sering kebablasan dalam menjalankan perannya. Saya menjumpai banyak lembaga yang belum-belum sudah mengajarkan hal-hal yang belum waktunya didapat anak usia prasekolah.
Misalnya berhitung, mengeja, dan menulis. Mereka jadi lupa dengan semangat learning for living tadi. Persiapan untuk sekolah justru lebih diutamakan. Lembaga-lembaga tersebut bangga bila anak hasil didikannya tampil menonjol ketika masuk TK, berkat keterampilan yang sudah didapatkan di lembaga tersebut.
Padahal, tidak selamanya keterampilan yang diperoleh lebih dini itu baik bagi si anak. Sering karena sudah bisa melakukan hal-hal yang belum dapat dilakukan teman sekelasnya, anak malah bertingkah dan mengganggu temannya. Atau, mungkin dia jadi kurang respek terhadap guru karena merasa sudah mampu berhitung atau menulis.
Selain itu, karena sisi intelektual lebih ditekankan, sisi emosional justru terlupakan. Bisa jadi, meski piawai menulis, anak justru alpa mengucapkan terima kasih.
Parahnya lagi, tradisi mementingkan intelektualitas agaknya sudah mendarah daging dalam sistem pendidikan Indonesia. Berapa banyak guru yang menghargai ucapan terima kasih dari murid yang nilainya kurang?
Mereka akan lebih terkesan dengan murid yang selalu mendapat nilai tinggi, sekalipun di kelas murid tersebut mungkin enggan bergaul dengan teman-temannya.
Penghargaan pun diberikan kepada murid yang nilai akademisnya paling tinggi, bukan kepada murid yang paling santun dan suka membantu teman. Padahal, sudah jelas bahwa kecerdasan intelektual hanya memberi andil 20 persen bagi kesuksesan seseorang. Sisanya ditentukan oleh kecerdasan emosional.
Kedua, keberadaan lembaga pendidikan prasekolah sering membuat orang tua lupa akan perannya untuk mendidik anak. Karena sudah membayar sejumlah uang yang besar, mereka merasa sudah cukup. Padahal, pendidikan anak yang paling mendasar dimulai dari dalam keluarga, karena keluarga adalah institusi pertama yang dikenal anak sejak dia lahir.
Lagi pula, ada hal-hal tertentu yang hanya dapat dipelajari anak dari keluarga dan bukan dari lembaga pendidikan. Misalnya, pendidikan seksual. Pendidikan ini sering dilupakan masyarakat karena dianggap tabu.
Padahal, anak kecil pun harus mendapat pengetahuan seksual, dengan catatan harus sesuai usianya. Mereka harus tahu perbedaan laki-laki dan perempuan serta mengenal organ genital.
Dampak terabaikannya pendidikan ini sudah dapat kita lihat di media massa, betapa banyak kasus perkosaan terhadap anak yang tidak tahu apa-apa.
Sebuah penelitian membuktikan, anak yang mendapat pendidikan seksual sejak dini memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terlibat dalam seks pranikah di usia remaja (Jakarta Post, 2003). Bila menunggu hingga anak mendapat pendidikan seksual dari sekolah, bisa jadi sudah terlambat, karena pendidikan tersebut umumnya diberikan menjelang pubertas.
Jadi, keberadaan lembaga prasekolah sangat bermanfaat, asal tetap pada porsinya. Kembalikan hakikat pendidikan prasekolah pada learning for living, dan bukan living for learning. Utamakan sisi kecerdasan emosi daripada intelektualitas semata.

* Ria Angelia Wibisono, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UK Petra Surabaya aktivis HIMAKOMTRA.