Archive for December, 2006

Speechless….

Thursday, December 21st, 2006

Pernah gak sih kamu ngerasa hepi, terharu, dan sekaligus sedih dalam waktu bersamaan? Kalo udah gitu, apa yang kamu lakukan buat mengekspresikannya?

Ternyata aku bisa juga ngalamin hal itu… dan so speechless.. bingung harus ngomong apa… campur aduk deh…

Hepi karena sahabatku baru aja nelpon dan memberitakan sukses sidang skripsinya….

Terharu karena sahabatku bentar lagi lulus kuliah… akhirnya… dan juga karena terkenang2 masa2 indah kita bersama selama kuliah…

Sedih karena bentar lagi kita pasti lebih jarang ketemu… beberapa semester terakhir aja kita udah juarang banget ketemu, nggak kayak dulu, hampir tiap hari sampe muntah2 (hiperbola yo). Belum termasuk telpon malem2 ngomongin soal HIMAKOMTRA….

Anyway, ndak baik lah kalo sedih ketika sahabat kita sukses, ya nggak? Kita harus berani ngelepas dia buat kesuksesannya kan? Aku percaya, jarang ketemu, jarang komunikasi itu bukan berarti pertemanan kita berakhir gitu aja kok. Kan ada imel, SMS, g-chat, dll…. (walaupun dia paling males bales imel, SMS, apalagi chat, kayaknya kok agak ndak mungkin….)

Ya, intinya aku cuma mau bilang congratz buat sahabatku ini…. semoga dia sukses dengan kehidupan barunya after graduation…. (pasti lah, temenku ini hebat kok)

Tapi, yo tetep sedih pek… bakal jarang ketemu lagi…. pengen nangis huhuhu….. I’ve lost so many friends in my life and I don’t wanna lose anyone again….

Books… Books… Books….

Saturday, December 9th, 2006

Surabaya lagi ramah sama pecinta buku. Di Arif Rahman Hakim ada bursa buku murah. Di Kompas Gramedia Jemursari juga. Di Plaza Surabaya, ada Gramedia baru buka, diskon 30%. Senang sekali….

Tadi aku ke Gramedia Plaza Surabaya. Sebenarnya aku cukup anti Gramedia. Soalnya biar lengkap, harganya jauh lebih mahal dibandingin Uranus sama Togamas. Tapi ternyata, kali ini Gramedia lagi bermurah hati. Rame banget jadinya. Orang-orang sibuk memborong buku dan alat tulis. Malah waktu antre bayar di kasir, orang di depanku borong buku sampai 1,6 juta. Kayaknya dia mau buka perpustakaan deh. Banyak banget bukunya, jadi ngiri. Lebih banyak dari orang yang pernah aku lihat belanja 500 ribu di Togamas. Sedangkan aku, belanja buku paling banter sampai 200 ribu. Itu pun sudah siap-siap bokek. Tadi aja aku terpaksa menyisihkan biografi PK Ojong yang mau aku beli. Ya, at least aku udah pernah baca cukilannya di Intisari.

Aku selalu mikir kalau beli buku itu nggak akan pernah rugi. Biarpun ternyata aku nggak suka, kan bisa disimpan, siapa tahu nanti bisa dibaca anak-cucu. Atau kali aja suatu hari aku butuh info dari buku itu. Atau kalau memang parah banget, kan bisa diloak. Nah kalau bukunya bagus, best-seller, aku usahain harus punya. Bisa buat investasi anak-cucu. Biar nanti anak-cucuku pinter-pinter hahahaa… makanya aku ini termasuk shopaholic untuk urusan bacaan. Dalam sebulan, belum tentu aku beli baju baru, tapi pasti ada minimal dua majalah baru yang aku beli. Mirip banget sama Rebecca Bloomwood di Shopaholic yang nggak bisa nahan nafsu belanja.

Cita-citaku, kalau udah kayaaaa nanti, aku mau buka toko buku. Biar bisa baca buku sesuka hati. Terus tokoku nanti bakal senyaman QB. Selengkap Kinokuniya. Secantik Periplus. Karyawannya seramah Gramedia. Dan harganya semurah Uranus/Togamas. Dan ada cafenya. Ada contoh buku yang nggak diplastik dan boleh dibaca. Waaa… bangkrut dong, hehehe…

Daftar buku yang benar-benar aku suka :

1. Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

2. Confessions of A Shopaholic – Sophie Kinsella

3. Undomestic Goddess – Sophie Kinsella

4. The Devil Wears Prada – Lauren W.

5. Parasit Lajang – Ayu Utami

6. Panggil Aku Peng Hwa – Veven Sp Wardhana

7. Doa Sang Katak – Anthony de Mello

8. Chicken Soup for The Single’s Soul

9. Rome Sweet Home

10. Gallery of Kisses – kumpulan cerita pendek  

11. Bukunya Enid Blyton dan Roald Dahl

Daftar buku yang sudah aku baca cukilannya – dan aku tertarik :

1. Hidup Sederhana, Berpikir Mulia (kalo nggak salah) – biografi PK Ojong

2. Buku tentang tradisi Carok terkait dengan harga diri orang Madura

3. Buku tentang cewek yang operasi plastik berkali-kali

4. dan banyak lagi… thanks to majalah Intisari yang setia mencukilkan buku-buku bermutu….

Daftar buku yang pengen aku baca :

1. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca dari Tetralogi Pulau Buru Pramoedya (bisa pinjam di perpustakaan, terus nabung buat beli cetakan terbarunya)

2. Buku-buku Pramoedya yang lain deh! Terutama Hoakiau di Indonesia

3. Indonesia dalem Api dan Bara – Tjamboek Berdoeri

4. The Toyota Way

5. Lanjutannya Shopaholic (Ties The Knot, Goes to Manhattan, and Sister)

6. Saman dan Larung  Ayu Utami

7. Blue Ocean Strategy (menggoda banget tuh tadi di Gramedia)

8. Chicken Soup for The Single’s Soul part 2 – kalau udah terbit

9. Buku-bukunya Soe Hok Gie (ini bisa pinjem temenku hahaha…)

10. Hell Yeah!! Biografi Wimar Witoelar – ini nunggu oleh-oleh dari Jakarta hahahaa..

11. Diary of Anne Frank – pasti nangis bombay deh baca ini…

12. Mau belajar baca bukunya GM juga…

Pramoedyaholic

Saturday, December 9th, 2006

Belakangan ini aku jadi Pramoedyaholic. Bermula dari iseng-iseng pinjam Bumi Manusia di perpustakaan, dua hari kemudian aku sudah balik kucing buat pinjam lanjutannya, Anak Semua Bangsa. Padahal, niatan awalku baca Bumi Manusia sih cuma buat keren-kerenan aja. Sebagai orang yang ngaku gila baca, masak sih sampai umur 21 belum pernah baca karya Pramoedya Ananta Toer sama sekali?

Dulu, aku takut baca bukunya Pramoedya karena takut nggak cukup cerdas untuk mengerti. Apalagi pemberitaan media selalu mengedepankan Pram sebagai sastrawan terbesar Indonesia yang layak mendapat hadiah Nobel. Ternyata, puji Tuhan, aku bisa cukup menyerap tulisannya. Dan itu yang buat aku super kagum sama Pram. Kenapa?

Yang pertama, aku selalu kagum sama penulis yang bisa membuat pembacanya merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya. Berada di tempat yang mereka gambarkan dengan kata-kata saja. Bahkan, yang paling ekstrim, membuat pembaca seolah hidup di jaman yang ditentukan di tulisannya. Pram memenuhi ketiga kriteria itu. Hebatnya, kalau dipikir secara logika, dia sendiri tidak hidup di zaman Bumi Manusia. Cerita itu ber-setting akhir tahun 1800-an. Kalau Pram sudah hidup saat itu (dalam usia minimal 18 tahun, bukan baru lahir, karena kalau dia masih bocah, belum cukup dewasa untuk memahami gejolak sosial politik masanya – apalagi menuliskannya), mestinya dia sudah bisa masuk MURI sebagai manusia tertua di Indonesia (dia kan baru-baru aja meninggalnya, lahir juga 1925). Lagian, novel itu ditulis tahun 1970-an.

Menurutku, Pram bisa menuliskan kehidupan masa itu dengan lancar karena dia banyak membaca. Mungkin, dia terinspirasi oleh Max Havelaar (bukunya Multatuli alias Douwess Dekker, yang juga lagi aku pinjam dari perpustakaan). Karena Pram sempat menyebut karya itu dalam bukunya. Juga, buku Nyai Dasima. Buku itu menjadi favorit salah satu tokoh dalam Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh. Yang jelas, dia juga pasti banyak membaca buku sejarah. Ini alasan keduaku untuk kagum sama Pram, dia benar-benar mengadakan riset secara serius untuk memperkaya bukunya.

Yang ketiga, berapa banyak sih penulis yang bukunya bisa bertahan dibaca sampai bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun? Pram mampu melakukannya. Buku-bukunya masih terpajang di toko-toko buku dengan tampilan lebih modern. Aku rasa, buku Pram bisa begitu sakti karena nilai historis di dalamnya. Memang buku-bukunya fiksi, tapi setting waktu dan tempatnya benar-benar nyata. Mungkin hanya tokoh dan kisah hidupnya yang merupakan imajinasi Pram. Namun, kadang aku merasa, tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia dengan segala kompleksitas hidupnya, dapat merepresentasikan tokoh-tokoh nyata dalam kehidupan tahun tersebut. Pribumi yang memuja ilmu pengetahuan Eropa tanpa menyadari keterpurukan bangsanya. Pribumi yang dikucilkan baik oleh sebangsanya maupun oleh kolonial, karena statusnya sebagai nyai (pasangan hidup pria Belanda yang tidak dinikahi secara sah). Orang-orang Belanda yang angkuh, ada pula yang liberal. Aku yakin tipe-tipe kepribadian seperti itu, pernah hidup di zamannya.

Pram juga punya kebiasaan menulis sebagai salah satu tokoh di bukunya. Dia menulis sebagai Minke, tokoh utamanya, untuk menceritakan peristiwa menurut sudut pandang Minke. Lain waktu, dia berganti menjadi Panji Darman, yang menulis surat untuk Minke. Hebatnya, bila sebagai Minke Pram menulis dengan bahasa indah dan terpelajar (Minke digambarkan sebagai pemuda cerdas dan suka menulis), sebagai Panji Darman Pram menulis dengan ceroboh, dengan alur yang melompat-lompat, karena memang Panji bukan tokoh yang pandai menulis. Demikian pula bila ia menulis sebagai Sarah/Miriam de La Croix, bertutur sebagai Maiko, Annelies, Nyai Ontosoroh, dan lain sebagainya. Pram benar-benar larut dalam karakter pribadi setiap tokohnya. Bahkan dengan latar belakang Panji yang penganut Kristen, Pram membubuhkan kalimat yang menggambarkan iman Kristiani dalam surat yang ditulis Panji. Lain waktu, ketika dia bertutur sebagai Darsam yang muslim, dia menggunakan istilah Islami. Itulah yang membuat pembaca bisa-bisa menyangka, karyanya bukan fiksi. Pram bisa membuat tokoh-tokohnya benar-benar ‘hidup’!

Sayang banget sastrawan sebesar Pramoedya Ananta Toer telah berpulang. Sulit menemukan karya seperti karyanya di zaman sekarang. Hebohnya, karya-karya Pram yang dulu harganya cuma 6000-an, sempat dilarang beredar pula, saat ini dicetak ulang dengan tampilan yang menawan, dengan harga yang tinggi untuk ukuran buku lokal. Bahkan di Gramedia, karyanya diletakkan di bagian Buku Laris. Itulah mengapa, walaupun pengen banget punya Tetralogi Pulau Buru (empat buku yang ditulis Pram semasa ditahan di Pulau Buru), aku harus menahan diri dulu. Untuk saat ini, aku harus puas sama 2 buku Pram yang harganya terjangkau. So, kalau pengen beliin aku hadiah Natal kek, atau ultah kek (biar telat juga nggak pa-pa), Tetralogi Pulau Buru adalah pilihan yang tepat, hehehe….

Super Duper Nganggur…

Tuesday, December 5th, 2006

Setelah menyelesaikan magangku selama 3 bulan….

Setelah menyelesaikan laporan magang setebal 100 halaman lebih….

Setelah sidang magang yang ternyata nggak seserem bayanganku…

Akhirnya aku nganggur. Paling tidak, aku punya waktu cukup lama sebelum liburan Natal (di mana as usual, aku bakal pulang kampung) dan memulai skripsiku.

Well, emang aku masih harus nyetak foto dan nunggu hardcover laporanku selesai… tapi just it. Nggak ada rapat2, nggak ada proposal atau LPJ yang nunggu diperiksa, nggak ada acara2 yang harus dihadiri, nggak ada tugas2 yang bikin gila.

Sebenernya enak juga loh nganggur gini. Aku jadi punya banyak waktu untuk diriku sendiri. Aku bisa nonton TV sepuasku, bisa baca buku sebanyak yang aku mau, bisa maen game sesuka hati, bisa ngapa2in aja pokoknya. Tapi kadang aku merasa, ini nggak aku banget. Nggak menghasilkan apa2 dan nggak berguna.

Sempat kepikiran, apa ndaftar panitia acara kampus aja yah? Tapi ndak enak rasanya, karena kalau aku keterima, itu berarti aku telah membunuh kesempatan satu mahasiswa lain yang mungkin lebih butuh ikut panitia itu, buat pengalaman dia. Jadi aku memutuskan hanya akan terlibat dalam kepanitiaan yang bener-bener sangat amat membutuhkan aku, atau kepanitiaan yang nggak pernah aku ikuti sebelumnya.

By the way, karena nganggur aku jadi banyak baca. Kemaren aku ke perpus, pinjem 3 buku. Yang pertama, Jurnal Perempuan tentang Perempuan dan Fundamentalisme (aku peminjam pertama untuk buku itu loh). Kedua, Chicken Soup for the Soul, edisi ke-5 (yang bikin aku kepengen nangis aja bacanya). Ketiga, menarik neh, bukunya Pramoedya berjudul Bumi Manusia. Edisi pertama dari tetralogi Pulau Buru. Menarik karena Pram bisa bener-bener membawa pembacanya ke suasana jaman itu. Menarik karena biar bahasa dan istilah jadulnya banyak yang tidak aku mengerti, aku tetap bisa ngelanjutin baca.

Oh iya, aku juga sudah menamatkan Confession of a Shopaholic dan pengen banget baca seri berikutnya. Pengen baca lanjutannya Bumi Manusia juga. Pengen baca Saman dan Larung. Pengen baca Chicken Soup lagi. Duh, pengen ke perpus lagi…