Pramoedyaholic
Belakangan ini aku jadi Pramoedyaholic. Bermula dari iseng-iseng pinjam Bumi Manusia di perpustakaan, dua hari kemudian aku sudah balik kucing buat pinjam lanjutannya, Anak Semua Bangsa. Padahal, niatan awalku baca Bumi Manusia sih cuma buat keren-kerenan aja. Sebagai orang yang ngaku gila baca, masak sih sampai umur 21 belum pernah baca karya Pramoedya Ananta Toer sama sekali?
Dulu, aku takut baca bukunya Pramoedya karena takut nggak cukup cerdas untuk mengerti. Apalagi pemberitaan media selalu mengedepankan Pram sebagai sastrawan terbesar Indonesia yang layak mendapat hadiah Nobel. Ternyata, puji Tuhan, aku bisa cukup menyerap tulisannya. Dan itu yang buat aku super kagum sama Pram. Kenapa?
Yang pertama, aku selalu kagum sama penulis yang bisa membuat pembacanya merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya. Berada di tempat yang mereka gambarkan dengan kata-kata saja. Bahkan, yang paling ekstrim, membuat pembaca seolah hidup di jaman yang ditentukan di tulisannya. Pram memenuhi ketiga kriteria itu. Hebatnya, kalau dipikir secara logika, dia sendiri tidak hidup di zaman Bumi Manusia. Cerita itu ber-setting akhir tahun 1800-an. Kalau Pram sudah hidup saat itu (dalam usia minimal 18 tahun, bukan baru lahir, karena kalau dia masih bocah, belum cukup dewasa untuk memahami gejolak sosial politik masanya – apalagi menuliskannya), mestinya dia sudah bisa masuk MURI sebagai manusia tertua di Indonesia (dia kan baru-baru aja meninggalnya, lahir juga 1925). Lagian, novel itu ditulis tahun 1970-an.
Menurutku, Pram bisa menuliskan kehidupan masa itu dengan lancar karena dia banyak membaca. Mungkin, dia terinspirasi oleh Max Havelaar (bukunya Multatuli alias Douwess Dekker, yang juga lagi aku pinjam dari perpustakaan). Karena Pram sempat menyebut karya itu dalam bukunya. Juga, buku Nyai Dasima. Buku itu menjadi favorit salah satu tokoh dalam Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh. Yang jelas, dia juga pasti banyak membaca buku sejarah. Ini alasan keduaku untuk kagum sama Pram, dia benar-benar mengadakan riset secara serius untuk memperkaya bukunya.
Yang ketiga, berapa banyak sih penulis yang bukunya bisa bertahan dibaca sampai bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun? Pram mampu melakukannya. Buku-bukunya masih terpajang di toko-toko buku dengan tampilan lebih modern. Aku rasa, buku Pram bisa begitu sakti karena nilai historis di dalamnya. Memang buku-bukunya fiksi, tapi setting waktu dan tempatnya benar-benar nyata. Mungkin hanya tokoh dan kisah hidupnya yang merupakan imajinasi Pram. Namun, kadang aku merasa, tokoh-tokoh dalam Bumi Manusia dengan segala kompleksitas hidupnya, dapat merepresentasikan tokoh-tokoh nyata dalam kehidupan tahun tersebut. Pribumi yang memuja ilmu pengetahuan Eropa tanpa menyadari keterpurukan bangsanya. Pribumi yang dikucilkan baik oleh sebangsanya maupun oleh kolonial, karena statusnya sebagai nyai (pasangan hidup pria Belanda yang tidak dinikahi secara sah). Orang-orang Belanda yang angkuh, ada pula yang liberal. Aku yakin tipe-tipe kepribadian seperti itu, pernah hidup di zamannya.
Pram juga punya kebiasaan menulis sebagai salah satu tokoh di bukunya. Dia menulis sebagai Minke, tokoh utamanya, untuk menceritakan peristiwa menurut sudut pandang Minke. Lain waktu, dia berganti menjadi Panji Darman, yang menulis surat untuk Minke. Hebatnya, bila sebagai Minke Pram menulis dengan bahasa indah dan terpelajar (Minke digambarkan sebagai pemuda cerdas dan suka menulis), sebagai Panji Darman Pram menulis dengan ceroboh, dengan alur yang melompat-lompat, karena memang Panji bukan tokoh yang pandai menulis. Demikian pula bila ia menulis sebagai Sarah/Miriam de La Croix, bertutur sebagai Maiko, Annelies, Nyai Ontosoroh, dan lain sebagainya. Pram benar-benar larut dalam karakter pribadi setiap tokohnya. Bahkan dengan latar belakang Panji yang penganut Kristen, Pram membubuhkan kalimat yang menggambarkan iman Kristiani dalam surat yang ditulis Panji. Lain waktu, ketika dia bertutur sebagai Darsam yang muslim, dia menggunakan istilah Islami. Itulah yang membuat pembaca bisa-bisa menyangka, karyanya bukan fiksi. Pram bisa membuat tokoh-tokohnya benar-benar ‘hidup’!
Sayang banget sastrawan sebesar Pramoedya Ananta Toer telah berpulang. Sulit menemukan karya seperti karyanya di zaman sekarang. Hebohnya, karya-karya Pram yang dulu harganya cuma 6000-an, sempat dilarang beredar pula, saat ini dicetak ulang dengan tampilan yang menawan, dengan harga yang tinggi untuk ukuran buku lokal. Bahkan di Gramedia, karyanya diletakkan di bagian Buku Laris. Itulah mengapa, walaupun pengen banget punya Tetralogi Pulau Buru (empat buku yang ditulis Pram semasa ditahan di Pulau Buru), aku harus menahan diri dulu. Untuk saat ini, aku harus puas sama 2 buku Pram yang harganya terjangkau. So, kalau pengen beliin aku hadiah Natal kek, atau ultah kek (biar telat juga nggak pa-pa), Tetralogi Pulau Buru adalah pilihan yang tepat, hehehe….