Listani

November 5th, 2006 by riawibisono

Aku baru sadar betapa tidak terkategorisasinya blogku ini. Jadi aku memutuskan buat bikin blog yang well-categorized. Dan hari ini, pertama kalinya aku nulis sebuah blog di kategori Friendz…  Aku pengen nulis tentang teman2 terdekatku yang spesial buat aku. Soalnya kalo nulisnya di testimonial kurang puasss…. Udah ada beberapa nama yang terpikirkan sih… tapi berhubung cewek satu ini besok mau ultah jadi dia dapet giliran pertama…

Besok, tepatnya tanggal 6 November 2006, temenku Listani ini bakal ngerayain ultahnya yang ke-21. Malem ini sebenarnya dia ngundang temen2 deket ke kostnya buat makan2 (masak sendiri loh). Sayangnya aku ndak bisa dateng karena masih di Bali.

Lista… I knew this girl from a leadership training camp held by my campus. Kalo dipikir2 baru 1 taon yang lalu, bulan Maret 2005 aku tau dia. Itu pun cuma sekedar tau… gak sampai kenalan. Walaupun kita sempat sekelompok tapi ndak saling ngobrol… aneh ya?

Then sebulan kemudian aku ikut LKMM-TD di mana Lista jadi ketua panitia acaranya. Baru dari sana kita mulai saling bicara. Honestly, aku berpikiran agak negatif tentang dia. Di satu sisi aku kagum sama ketegasannya, di sisi lain aku pikir dia sombong dan apatis sama orang lain. And believe it or not, ternyata dia juga punya pandangan yang kurang lebih sama tentang aku di awal perkenalan kita.

Sialnya, aku dan dia dipertemukan nasib di dalam BPMF 1. Sialnya lagi, dia kepilih jadi ketua BPMF. Jujur aku lumayan takut karena aku berprasangka bahwa dia adalah orang yang berpikiran konservatif seperti BPMF sebelumnya. Sementara aku ingin mengubah paham konservatif tradisional itu supaya BPMF bisa lebih relevan dengan situasi dan kondisi.

Tapi siapa sangka, ternyata kita bisa jadi partner yang oke. Padahal banyak orang di luar sana yang khawatir kalo kita bakal bertengkar. In fact, hampir semua pemikiran kami sejalan. Banyak kesamaan di antara kita, contohnya sama2 Scorpio, sama2 suka warna ungu, sama2 stubborn, sama2 dominan (tapi lebih dominan dia deh =p) and so on. Untungnya selera cowok kita ndak sama, bisa rebutan dong ntar hahaha…. (selera cowokmu lumayan aneh si Mbok…)

Temanku yang satu ini cukup multi-talented. She sings well… plays some music instrument too… good taste of art, and she was born to be a leader. Walaupun sosoknya terlihat keras, Lista punya kelembutan hati yang mungkin melebihi perempuan-perempuan yang tampak lembut di luar. Dari dia aku semakin belajar bahwa kita nggak bisa begitu cepat menilai seseorang hanya dari satu-dua kejadian. She can cook also, do household tasks… very very independent, smart, open minded, and dare to speak out her mind.

Persahabatan kita tambah erat menjelang akhir semester lalu karena satu insiden yang sebenarnya nggak enak banget…. kayaknya mending nggak usah dibicarain lah. Tapi salut banget buat ketegaran dan kegigihannya untuk membuktikan kebenaran.

Back to main topic, besok temanku ini bakal ultah… jujur sampe hari ini aku masih belum nyiapin kado buat dia. Dan tambah ngeri waktu dia cerita kado2 yang dia terima hari ini… gila2an soalnya. Emang dia bilang, aku SMS aja dia udah seneng kok… tapi aku ndak mau cuma SMS ah….

God, thanks for giving this girl a beautiful life for 21 years….

and thanks for a more beautiful life You granted for her next years…

You know all the best for Lista, since Your plan is the most perfect of all

I hope that she will be always on Your path… of truth, rightness and wisdom…

I pray for her study, her service, her dreams, her family, and her spouse…

Hope that she will find a man after Your own heart to be her mate…

And hope that our friendship will be forever…

Just like David and Jonathan… Mary and Elizabeth…

Amen….

Close your eyes, make a wish…

Happy birthday, Lista….

Setelah begadang2….

November 4th, 2006 by riawibisono

Akhirnya laporan akhirku udah aku kirim ke dosen pembimbingku. Kalo di-approve bisa langsung diprint dan dikirim. Thanks God di tengah kesibukan kerja aku masih bisa nyelesaiin laporanku….

Semoga dapet nilai A, kalo gak bisa gila… 100 halaman lebih mbok… belum termasuk lampirannya… aku aja sekarang bingung apa aja yang harus dilampirin, banyaaaak banget kayake….

Kok Ndak Mau Bobok Seh??

November 1st, 2006 by riawibisono

Kenapa kok aku ndak mau bobok ya?

Padahal besok jam 6 subuh udah harus di kantor…. mau shooting….

ayo Ria bobok…

Kapan ya Masuk Prokon Aktivis Lagi??

November 1st, 2006 by riawibisono

Jawa Pos, Jumat (1 Juli 2005), kolom Prokon Aktivis

Learning for Living
Oleh Ria Angelia Wibisono *
Di era globalisasi ini, persaingan dalam dunia kerja semakin ketat. Untuk menghadapinya, para orang tua masa kini mempersiapkan putra-putrinya melalui pendidikan yang bermutu.
Bahkan, persiapan itu dimulai sejak usia dini. Tidak menunggu hingga mereka cukup umur untuk masuk taman kanak-kanak (TK), tetapi sudah didaftarkan di lembaga pendidikan prasekolah (kelompok bermain/play group). Karena itu, wajar bila lembaga pendidikan prasekolah berdiri di mana-mana, bak cendawan di musim penghujan.
Idealnya, keberadaan lembaga pendidikan prasekolah tersebut sangat membantu orang tua dalam mendidik anaknya. Usia prasekolah adalah usia yang cukup penting untuk membentuk kepribadian seorang anak. Semakin bertambah usia akan semakin sulit mengubah kepribadian mereka.
Karena itu, pada usia prasekolah, sisi emosional seorang anak harus diasah. Mereka harus mulai belajar sopan santun, etika, moral, dan sebagainya. Tentu bukan dalam arti teoretis, melainkan praktis.
Contohnya memberi salam kepada orang tua, berbagi dengan saudara, menolong orang lain, dan banyak lagi. Selain itu, dalam usia anak yang masih kecil, mereka perlu belajar melakukan hal-hal sederhana.
Contohnya membersihkan diri, buang air (toilet training), makan, berpakaian, dan sebagainya. Istilahnya, learning for living, belajar untuk hidup. Lembaga pendidikan prasekolah dapat mengajar mereka melakukannya, dengan beberapa bonus tambahan.
Misalnya, anak-anak jadi bisa bersosialisasi dengan orang di luar keluarganya (guru, teman-teman). Lalu mereka juga dapat lebih siap menghadapi bangku sekolah, karena sudah terbiasa dengan jadwal harian, guru, dan sebagainya.
Tetapi, keberadaan lembaga pendidikan prasekolah juga memiliki kelemahan. Pertama, lembaga-lembaga tersebut sering kebablasan dalam menjalankan perannya. Saya menjumpai banyak lembaga yang belum-belum sudah mengajarkan hal-hal yang belum waktunya didapat anak usia prasekolah.
Misalnya berhitung, mengeja, dan menulis. Mereka jadi lupa dengan semangat learning for living tadi. Persiapan untuk sekolah justru lebih diutamakan. Lembaga-lembaga tersebut bangga bila anak hasil didikannya tampil menonjol ketika masuk TK, berkat keterampilan yang sudah didapatkan di lembaga tersebut.
Padahal, tidak selamanya keterampilan yang diperoleh lebih dini itu baik bagi si anak. Sering karena sudah bisa melakukan hal-hal yang belum dapat dilakukan teman sekelasnya, anak malah bertingkah dan mengganggu temannya. Atau, mungkin dia jadi kurang respek terhadap guru karena merasa sudah mampu berhitung atau menulis.
Selain itu, karena sisi intelektual lebih ditekankan, sisi emosional justru terlupakan. Bisa jadi, meski piawai menulis, anak justru alpa mengucapkan terima kasih.
Parahnya lagi, tradisi mementingkan intelektualitas agaknya sudah mendarah daging dalam sistem pendidikan Indonesia. Berapa banyak guru yang menghargai ucapan terima kasih dari murid yang nilainya kurang?
Mereka akan lebih terkesan dengan murid yang selalu mendapat nilai tinggi, sekalipun di kelas murid tersebut mungkin enggan bergaul dengan teman-temannya.
Penghargaan pun diberikan kepada murid yang nilai akademisnya paling tinggi, bukan kepada murid yang paling santun dan suka membantu teman. Padahal, sudah jelas bahwa kecerdasan intelektual hanya memberi andil 20 persen bagi kesuksesan seseorang. Sisanya ditentukan oleh kecerdasan emosional.
Kedua, keberadaan lembaga pendidikan prasekolah sering membuat orang tua lupa akan perannya untuk mendidik anak. Karena sudah membayar sejumlah uang yang besar, mereka merasa sudah cukup. Padahal, pendidikan anak yang paling mendasar dimulai dari dalam keluarga, karena keluarga adalah institusi pertama yang dikenal anak sejak dia lahir.
Lagi pula, ada hal-hal tertentu yang hanya dapat dipelajari anak dari keluarga dan bukan dari lembaga pendidikan. Misalnya, pendidikan seksual. Pendidikan ini sering dilupakan masyarakat karena dianggap tabu.
Padahal, anak kecil pun harus mendapat pengetahuan seksual, dengan catatan harus sesuai usianya. Mereka harus tahu perbedaan laki-laki dan perempuan serta mengenal organ genital.
Dampak terabaikannya pendidikan ini sudah dapat kita lihat di media massa, betapa banyak kasus perkosaan terhadap anak yang tidak tahu apa-apa.
Sebuah penelitian membuktikan, anak yang mendapat pendidikan seksual sejak dini memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terlibat dalam seks pranikah di usia remaja (Jakarta Post, 2003). Bila menunggu hingga anak mendapat pendidikan seksual dari sekolah, bisa jadi sudah terlambat, karena pendidikan tersebut umumnya diberikan menjelang pubertas.
Jadi, keberadaan lembaga prasekolah sangat bermanfaat, asal tetap pada porsinya. Kembalikan hakikat pendidikan prasekolah pada learning for living, dan bukan living for learning. Utamakan sisi kecerdasan emosi daripada intelektualitas semata.

* Ria Angelia Wibisono, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UK Petra Surabaya aktivis HIMAKOMTRA.

Lovehappens.com

October 29th, 2006 by riawibisono

Just few days ago I received an email from one of my bestfriend. He invited me to connect him as a friend in lovehappens.com. It wasn’t my first time receiving such mail, but it was the first time I receive it from this man. Usually he just sent me some how-are-you mails, and currently some good stories/pictures. But an invitation joining a site? Never.

But I was interested at the name of the site. I thought that the site would be like friendster. But when I opened it, the welcome page wrote : Help your friend find love! What kind of site will it be? Getting curious, I decided to sign up.

Now I know that lovehappens is a site where you can try to find your match (love) and become a matchmaker at the same time. Actually, I feel a little bit ashamed reading my ‘looking’ profile at lovehappens. I’m single but I’m not that desperate, joining such kind of site. That’s why I even don’t want to add a photo. (Then I thought why my bestfriend invited me joining this site : does he think that I’m a desperate single? No friend, I’m single by choice. I’m single not because no one loves me, it’s because I’m quite picky… don’t wanna waste my time with a failed relationship. I’m single but I’m happy, and I will end my single time when I find a perfect match, don’t worry!)

But what fun about this site is you can have some test to know about your character, and the character of your ideal partner. In addition, you will know how rare you are (I mean, in its statistic, how many people in your same sex who have similar character as you), how many people in your opposite sex who like your character, how rare your ideal partner are, how many people in your same sex who have the same type of ideal partner, and so on. And when you see others profile, you can know (in percentage) how you and him/her match.

However, I don’t think I’m gonna get a real partner from this site. Yeah, I believe that love comes better in real world, not on the net. So, I just enjoy this site, and maybe I’ll be more active in matchmaking my friends. Wanna be my first matchmaking client? =p

The Most Precious Present in Life is The Life Itself….

October 23rd, 2006 by riawibisono

Beberapa hari terakhir, aku mikir tentang satu topik yang mungkin bikin bulu kuduk bergidik. Sesuatu yang nggak terlalu sering dibahas orang, padahal semua orang pasti akan mengalaminya. Siapa sih manusia yang pada akhirnya nggak berpulang ke Sang Pencipta?
Beberapa hari lalu mamaku cerita tentang seorang anak kenalannya yang meninggal karena kecelakaan. Sementara sebelumnya papanya temen papaku juga meninggal. Dan hari ini, aku terima kabar bahwa papa seorang temanku meninggal. Aku jadi sadar, orang nggak bisa lari dari takdir ini. Kematian bisa datang kapan saja. Banyak orang Kristen yang menafsirkan perkataan Yesus tentang kedatangan Anak Manusia yang seperti maling di malam hari sebagai nubuatan tentang hari kiamat. Tapi bagiku, perkataan itu maknanya sama dekatnya dengan kematian. Bukankah kematian seringkali datangnya juga seperti maling di malam hari, tanpa gelagat dan tanpa pertanda? Bahkan ketika orang meninggal karena sakit parah pun, keluarganya kadang juga merasa kaget saat orang itu akhirnya meninggal.
Belum lagi, orang yang meninggal karena bencana seperti korban gempa, tsunami, dan terorisme. Mereka sempat merasakan ketakutan yang dashyat saat maut menjemput. Aku baca berita tentang kesaksian keluarga korban 911, betapa mereka harus menanggung trauma setelah mendengar suara terakhir rekan,kekasih, atau keluarganya di telepon. Suara minta tolong, suara ketakutan, suara sedih…. Mereka pasti masih punya banyak mimpi dalam hidupnya. Mungkin ada yang lagi nunggu dilamar sama pacarnya. Mungkin ada yang nunggu kelahiran anaknya. Mungkin ada yang beberapa hari lagi bakal diwisuda. Mungkin ada yang berencana beli hadiah buat orang tuanya. Semuanya itu nggak kesampaian karena hidupnya berakhir dalam tragedi.
Jadi inget cerita dosenku, tentang pengalamannya nyaris dijemput maut. Saat itu pesawat yang ditumpanginya hampir mengalami kecelakaan. Saat itu ia hanya berpikir, ia belum sempat memainkan play station yang didekapnya selama perjalanan. Ya, kadang di saat kematian terasa begitu dekat, keinginan yang begitu sederhana pun bisa membuat manusia tak rela hidupnya berakhir.
Ada juga orang yang harus menghadapi maut pada saat yang ia ketahui. Misalnya orang yang dihukum mati. Aku selalu ngeri membayangkan terpidana mati yang menunggu eksekusi. Kekejaman apa pun yang pernah dia lakukan, aku tetap nggak setuju dia dihukum mati. Bagiku itu sangat mengerikan. Mungkin aja kalo dia dibiarin hidup, dia bisa tobat dan berguna bagi sesama. Kalaupun kehidupannya begitu membahayakan, paling tidak dia bisa diisolasi di penjara, itu sudah cukup menyiksa. Tapi at least, dia masih bisa hidup. Dan mungkin masih ada jalan baginya untuk memberi arti dalam kehidupannya.
Hmmm… tapi sebagai orang yang percaya pada ajaran Kristus, aku juga yakin ada kehidupan baru setelah kematian. Kematian seseorang tak akan pernah sia-sia. Yang aku rindukan hanyalah memberi arti dalam kehidupan yang singkat ini. Baik bagi sesama maupun orang lain. Ya… walaupun sempat gak enak hati waktu kepikiran tentang kematian, aku sadar bahwa Tuhan lagi ngajari aku untuk tidak menyia-nyiakan hidup. Paling nggak aku pengen ketika aku mati, ada sesuatu dari diriku yang berarti buat dunia. Yang membuat dunia nggak begitu saja melupakan seorang manusia bernama Ria. Misalnya, ya dengan membagikan pikiranku lewat blog ini… aku harap blogku bisa ngasih inspirasi buat semua yang membacanya…
Dan sejak aku kepikiran tentang hidup dan mati, aku jadi bisa mengucap syukur setiap pagi ketika aku mendapati diriku masih hidup setelah tidur… Sesuatu yang simpel, yang merupakan rutinitas, tapi sebenarnya sangat berharga…
Karena hidup itu begitu berarti…. please jangan pernah menyia-nyiakannya…

Django Mango, a New Friend of Me

October 20th, 2006 by riawibisono

His real name is Victor Vidal Paz, but he likes to introduce himself as ‘Django Mango’, especially on his CD covers. Born from a Catalan mother and Spanish father, he has traveled to 80 countries. Not just travel, he often creates something from his adventure in a country. A documentary movie about

Alor

Island

is his newest creation. And that’s how I get to know him. He is one of our clients in AVB editing studio.

I admire him because of his great talent in music and art. He plays good music; most are inspired by particular cultures. He also can speak in 12 languages. Besides his native language: Catalan and Spanish; he can speak English, French, German,

Hindi

,

Indonesia

, and some others. Knowing that I am an Indonesian born Chinese, he even greeted me in Chinese.

As a client he is very nice. He never complained rudely. If he was late in an appointment with the editor, he wouldn’t ashamed to say sorry. If he saw that the studio crews were tired, he would offer some drinks –coffee or cola- for us all. He spoke to everybody, greeted everybody, interested to know everybody.

Just because I’ve done some dubbing for his movie (just a very few seconds sound), he thanked me by giving a musical CD. The title is Secrets of The Yellow Emperor, with bamboo flute, flamenco guitar, vocal, harp, and Indo-Afro-Cuban drums. The music was inspired by a story about a Chinese emperor, from his book that entitled same as the CD.

He also loves

Indonesia

. He said that

Indonesia

is the world most extraordinary ethnic kaleidoscope. For example in Alor, an island smaller than

Bali

, you can find 50 tribes, each has its own language. Some of the people have never seen TV and never meet westerner. But according to him, the Alor people are, like other Indonesian, very warm, open, nice and fun. He really enjoyed playing music, mask, and puppets with them.

Watching his movie, I must confess that as an Indonesian I miss many great things about my country. In

Indonesia

there are still many great things to be explored : we still have very clear sea water, very great colors in the sky, richness in art as part of our culture… yes… we should be proud of being Indonesian. Thanks so much to Mr.Vidal who opened my eyes by his movie.

And where is Mr.Vidal now? He’s on a trip to

India

. He’ll celebrate Christmas with his mother and brothers in

Spain

, and then he’ll be ready for his next adventure in

Africa

. He always travels. It’s his way to live his life. He feels alive in a new place, meeting new peoples with new culture. That’s why he chooses not to get married. He highly recommended Himalaya, Sahara, and

Antarctica

as places you must visit before you die. Yes, he prefers wild places rather than ‘normal’ ones. As in Alor, where he felt very free to express himself, act with his instinct just like a wild animal. Quoting a statement from CG Jung in Mr.Vidal’s movie : “The more civilized and complicated man becomes, the less able he is to obey his instincts. His complex living conditions are strong enough to silence the voice of nature.” No wonder he mentioned eagle as a mirror that he reflects. He’s really like eagle. Always dreams to be free, flying from one place to another, alone but not lonely.

From our very short meeting, I’ve learnt a lot from him. Learned not to limit myself with worry, learned that ‘no risk no fun’. Learned that somehow reaching our own dream is more important that obey other’s will on us. He really shows that spirit, by his lifestyle, by his work. I can catch a young and wild spirit in him, while physically I think he is about 50-60 years old.

As he stated in one of his songs (this is an English translation from the Spanish lyric) :

            Adventurer, adventurer, don’t be afraid of dying

            Because the most precious diamond is the excitement of living intensively

            Nothing more bitter than feeling guilty for not having fulfilled our dreams

            Slaved by our insecurity and conformity

Don’t tell me where to go

I think for myself

A love for simplicity is a love for freedom

My grandmother said to me :
“listen to advices even if it is to do the contrary”

Don’t let your fear impede living your dreams

Only for the brave, happens extraordinary things……

I do hope that I can meet this great guy again… really nice to know someone like him. And I hope his movie will be presented on TV, so you all can watch it also…

In The Mood of Using English-don’t care bout the grammar

October 7th, 2006 by riawibisono

Hatchi!!!

Yeah… I caught a cold…. I even can’t go to work today because that damn cold attack my head too, so I have great migrain that makes me can’t wake up from my bed.

but still… I have to finish my internship report….

Second chapter is okay, but I have to add some theories on chapter one. And chapter 3 in progress, 8 pages just reporting my first three weeks in AVB… I made it very detail,I even reported things discussed in production meetings… no wonder it’s very long… and gonna be longer and longer… I’m obsessed to get an A for my hard-working… I also read my first internship report, one year ago, and found that actually it was not good enough, not qualified enough as a work of Ria… it was made in hurry, and I don’t wanna make such report again… (despite the fact that I got A for my first internship… think that it was just because the kindness of my lecturers…)

How about my work, then?

My current task is editing a presentation video, actually it is okay, but the client wants to cut some parts and make it shorter. I am still learning how to suit the beats of a background music with the videos appear. It is very hard for a person who is totally blind in music - and unfortunately I’m that person. I still remember what my junior high school teacher said about my partiture,"Good in drawing, but all notes are wrong-placed". Yeah, even my mom was confused because I’m the only strange person in my family who can’t understand music and don’t like singing (umm… actualy I love singing, but not singing solo in front of so many people just like my dad and sister do). But luckily I have Irma to help me understand the beat of a music, and the editors are very eager to teach me.   

Well.. thinks that it’s better to go to sleep… I need a lot of rest to keep my energy level and to recharge my brain… to finish my report….

La La La La…. Senangnya Magang…

September 28th, 2006 by riawibisono

Setelah satu bulan kerja aku tambah menikmati magangku di AVB.

Pertama, karena udah tambah kenal sama orang2nya. Orang bilang tak kenal maka tak sayang kan? Sejak syuting di Kamandalu aku semakin paham karakter orang di sini, jadi udah gak kagok2 lagi.

Kedua, aku banyaaaakkk banget belajar di AVB. Gak cuma masalah pra produksi sesuai judul proposalku, tapi juga gimana menghadapi klien, gimana produksi yang efektif, manajemen media waktu editing, sampe lama2 aku bisa ngedit sendiri hehehe…. belajar jadi kameramen juga pake kamera PD, ngerti framing, angle, lighting, dll. Terus ngamatin kerjanya tim produksi, mulai producer, director, cameraman, DoP, assistant cameraman, lighting man, gaffer, runner, editor… selain masalah teknis aku juga belajar jadi lebih telaten, lebih tegar terutama kalau disuruh revisi schedule dan nge-print storyline. Orang di sini rata-rata baik dan mau bagi ilmu.

Ketiga, karena aku merasa dapat kepercayaan dari orang-orang di sini. Mulai dari buat schedule, meeting sama klien, ngurusin talent, sampai sekarang aku dipercaya menggarap desain produksi corporate video sebuah hotel di Nusa Dua, mulai dari jadi kameramen pas racky dan casting sampai buat shot list,story line, dan konsep. Karena itu aku berusaha banget untuk nggak menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Keempat, karena dengan magang di sini aku banyak kenal sama orang-orang asyik. Mulai orang internal AVB sendiri, dosen IKJ (yang bisa diprospek untuk jadi tim sukses skripsi ;p), pimpinan hotel2 tenar, talent yang asyik dan udah banyak main iklan di Aussie (hidup Alex Csorogi!), terakhir kemaren ketemu Nathalie, model yang casting buat next project. Ternyata dia adalah bintang iklan Ponds versi lift dan istrinya Jamie Aditya! Jamie Aditya gitu loh! VJ MTV dan presenter Discovery Travel and Living favoritku! Jamie-nya nggak ikut sih, tapi aku harap bisa ketemu kalau Nat lolos casting atau ke kantor lagi untuk ngantar anaknya casting (lucu loh). Terus kenal Mr.Vidal, seniman asyik dari Spanyol yang lagi buat documentary Pulau Alor. Baik banget, dia janji mau ngasih aku CD musiknya cuma karena aku sempat dubbing untuk documentarynya (dubbing gak penting, cuma megap2 di depan mangkuk kuningan yang dipukul, hasilnya bunyi bergema yang agak mistis gitu, kok bisa ya, padahal aku gak ngeluarin suara).

Dari AVB juga aku kenal majalah Behind The Screen, sebenarnya ini dibawain Bang Donny sih. Majalah ini bagus banget, ngasih pengetahuan yang mantap tentang proses produksi karya audio visual. Setelah ngubek2 seisi Bali untuk nyari agen majalah, aku berhasil menemukan edisi terbarunya di bagian tertinggi rak majalah di Gramedia Discovery Mall.

Sayang, kesenanganku magang agak terganggu dengan dimajukannya jadwal pengumpulan Laporan Akhir dan sidang magang. 6 November sudah laporan, 27 sidang. Padahal aku pengen extend. Rencananya pengen jadi volunteer di IBEX, pameran broadcast dan multimedia pertengahan November ini. Sedih banget. Rencananya nanti tetap nekat ikut IBEX, jadi pulang pergi gitu. Soalnya bener2 once in a lifetime kan… huhuhuhu….

Pengalaman Shooting di Ubud…

September 8th, 2006 by riawibisono

Hehehe… saya baru pulang dari Ubud nih… abis shooting untuk project company profile sebuah resort. Capek banget, tapi juga seru abis. Memang ini bener2 shooting deh, alatnya oke (jib crane, dolly yang pake track… alat2 yang dulu cuma bisa saya lihat di slide mata kuliahnya Pak Andreas) dan krunya juga (cepet kerjanya, ndak kayak shooting di kampus, karna baru pada belajar jadi lama banget hehehe).

Gara2 shooting ini jadi sempat keliling Ubud. Liat pasar Ubud, Puri Agung Peliatan, sawah2, landscape di deket hotel Maya Ubud…. Pengen banget ke Ubud lagi,tapi buat jalan2. Soalnya banyak banget hal menarik di Ubud. Misalnya artworknya.

Yang gak kalah asik, tentu saja foto2. Maklum orang narsis. Dapet foto segudang deh di Ubud. Mulai foto ama jib crane sampai sama talent. Juga sama anjing Kintamani yang buat saya jatuh hati… Beberapa foto jadinya keren banget, soalnya yang fotoin kameramennya (thanks ya Mas Arief…)

Besok cerita ini akan berlanjut dengan foto2 yang ter-upload. Tunggu aja ya….